Beranda Artikel Opini Pernikahan Dini Rawan Perceraian

Pernikahan Dini Rawan Perceraian

583
0
BERBAGI

DI ERA digital ini semua bisa dipermudah. Yang penting menguasai teknologi maka itu sudah menjadi modal utama dalam melakukan berbagai kegiatan di dunia ini. Tak terkecuali bagi remaja yang sukanya selalu mencari pasangan hidup atau gonta ganti pacar. Sebab Hand Phond (HP) sudah menjadi kebutuhan setiap orang, sehingga ada yang memanfaatkan secara positif dan ada pula yang menggunakan secara negatif. Wajar jika berbagai peristiwa pun ikut terjadi di dalamnya dan terkecuali dengan persoalan remaja yang hingga kini masih terkesan sangat tinggi presentasinya dalam berhubungan atau pacaran gara-gara HP.

Hal ini membuktikan bahwa teknologi ini sangat kuat pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat di muka bumi ini, sehingga patut diapresiasi kemajuan teknologi yang dimiliki bangsa ini. Namun perlu dipahami bahwa teknologi juga tidak jarang manusia terjerumus ke jurang yang mematikan hanya gara-gara teknologi. Tak terkecuali dengan remaja yang suka berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Bahkan sering terdengar kasus adanya remaja yang terpaksa aborsi lantaran hamil diluar nikah. Ini tidak terlepas dengan teknologi baik itu didapat secara langsung maupun menonton pada video porno sehingga mereka terpancing untuk mencobanya.

Akan tetapi yang lebih parah lagi adalah maraknya pernikahan dini atau dibawah umur sehingga ini juga menjadi pembicaraan masyarakat termasuk pemerintah. Karena ini menjadi fenomena baru yang lagi naik daun di tengah masyarakat. Banyak pernikahan dini di kota-kota besar termasuk di daerah-daerah membuat pemerintah harus ikut campur di dalamnya. Sebab kapan pernikahan dibawah umur ini tidak diantisipasi lebih awal tentunya dampaknya sangat luar biasa di tengah masyarakat.  Apalagi kita sudah ada undang-undang tentang pernihakan dini.

Olehnya itu, pemerintah harus tegas dalam menerapkan aturan tersebut. Pernikaha dini melanggar pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Pasal ini menyebutkan bahwa perkawinan hanya dizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan wanita 16 tahun. Jadi tidak ada alasan untuk melangsungkan pernikahan dini sebab sudah diatur dalam undang-undang. Tinggal bagaimana KUA yang tegas di lapangan. KUA sebagai ujung tombak dalam melangsungkan pernikahan tersebut. Disinilah mau dibuktikan ketegasan pemerintah melalui KUA di lapangan.

Pernikahan usia dini tidak hanya banyak terjadi di daerah, tetapi juga di wilayah Kota Makassar. Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia  Untuk Keadilan (LBH APIK) Indonesia Sulsel, mencatat 333 kasus pernikahan anak selama 2017. Penyebabnya umumnya faktor keluarga yang memaksakan anak maupun kehamilan di luar nikah.

Staf Bimas Kemenag Soppeng, Nurkadin mengatakan, pernikahan usia dini masih didominasi anak perempuan. Pada tahun 2017, dari 180 kasus, 70 orang diantaranya laki-laki dan 110 perempuan. Sementara 2016  dari 159 kasus, terdiri dari 50 laki-laki dan 109 perempuan. (Fajar, 18 April 2018)

Memang diakui bahwa berbagai macam faktor yang dialami masyarakat dewasa ini sehingga terjadi pernikahan dini.  Faktor penyebab pernikahan dini adalah faktor ekonomi, kehamilan di luar nikah, paksaan orang tua dan perjodohan. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa peran orang tua dalam satu keluarga juga sangat kuat, sehingga orang tua juga harus diberi pemahaman atau pengertian tentang pernikahan dini. Sebab menikah di usia masih muda tentunya banyak memiliki resiko yang bisa berdampak pada anak.

Nah, dampak pernikahan dini dapat berpotensi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, kegagalan rumah tangga, potensial terkena kanker serviks. Akan tetapi yang paling banyak terjadi di lapangan adalah kasus perceraian sebab selain jiwa dan mentalnya masih tergolong labil juga belum mampu menahan kerasnya kehidupan dewasa ini. Jadi baru memiliki satu anak biasanya sudah langsung bercerai. Sebab percekcokan atau pertengkaran kecil dengan persoalan sepele saja itu bisa menjadi besar, sehingga ini menjadi pemicu utama dalam perceraian.

Tidak sedikit pasangan muda mudi yang baru seumur jagung usia pernikahannya tiba-tiba bercerai lagi. Nah kalau sudah bercerai tentunya yang menjadi sasaran adalah orang tuanya. Sebab perempuan terpaksa kembali kepada kedua orang tuanya. Disamping usia dini juga pasti bahwa pendidikan rendah karena mau kemana kalau sudah menikah. Mereka terpaksa tinggal di rumah. Apalagi kalau laki-lakinya tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga ini menjadi sumber percekcokan kalau sudah memiliki anak dan mau beli susu tapi tidak ada uang.

Tentunya ini sangat penting dalam membina rumah tanggga. Jadi pernikahan dini sebaiknya dihentikan dan mari kita berpikir panjang agar tidak menambah banyak persoalan di negeri ini. Sebab menikah lalu mempunyai anak, anaknya juga nanti belum cukup umur langsung dinikahkan, maka jumlah penduduk akan semakin melonjak. Negara pasti kewalahan akan mengurusnya. Jangankan melonjak, saat ini saja urus KTP belum kelar-kelar, apalagi kalau ditambah jumlah penduduk semakin banyak.

Jadi pernikahan dini sebaiknya stop sampai disini agar dapat menghindari banyak perceraian yang terjadi di tengah masyarakat.

Penulis adalah Staf Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here