Beranda Kampus Mahasiswa Prodi Sejarah UNM Belajar Filosofi Hidup Sederhana di Kajang

Mahasiswa Prodi Sejarah UNM Belajar Filosofi Hidup Sederhana di Kajang

319
0
BERBAGI
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah UNM di gerbang Kawasan Adat Amma Toa, Kajang Kabupaten Bulukumba. - Foto: ist

TEBARNEWS.COM, BULUKUMBA¬†— Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM), mengadakan penelitian lapangan mata kuliah Sejarah Lokal, 31 Oktober hingga 2 November 2019. Penelitian ini berlangsung pada lima kabupaten, yaitu Makam Raja-Raja Binamu di Kab. Jeneponto, Makam La Tenriruwa di Kabupaten Bantaeng, Kawasan Adat Kajang di Desa Tana Toa, Kabupaten Bulukumba, Benteng Balangnipa dan Situs Megalitukum Gojeng, di Kabupaten Sinjai, Bola Soba dan Museum Lapawawoi di Kabupaten Bone.

Pelaksanaan penelitian yang diikuti sebanyak 53 orang mahasiswa angkatan 2017 ini, dimaksudkan agar mahasiswa bisa melihat, mengamati, dan menganalisis secara langsung bukti sejarah dan budaya yang dipelajari di dalam kampus. Salah satunya adalah Kawasan Adat Kajang, dimana para mahasiswa bisa melihat langsung kehidupan masyarakat Kajang yang hidup dengan membatasi diri dengan teknologi modern. Hal ini disampaikan Rifal Najering, S.Pd, M.Hum, salah seorang dosen pendamping kegiatan tersebut.

Alumni S2 Ilmu Sejarah Universitas Indonesia ini juga mengatakan rombongan mahasiswa bertemu dengan pemangku adat atau Puto yang menjelaskan filosofi kehidupan masyarakat Kajang. Pemangku adat Tanatoa ini mengulas filosofi Kamase-mase, yaitu hidup dengan sederhana. Demikian juga makna rumah yang selalu berhadapan ke barat, yang berarti agar masyarakat senantiasa menghadap kiblat, serta dapur yang selalu berada paling depan rumah, agar tamu yang datang bisa melihat langsung apa yang akan dihidangkan oleh tuan rumah untuk tamu.

“Kajang merupakan suku yang mengedepankan sifat kesederhanaan, nilai-nilai inilah yang menjadi pegangan kita sebagai mahasiswa sejarah, dalam mengarungi kehidupan di masa depan. Soal kekayaan, tidak diukur dari materi yang dimiliki, tetapi lebih pada kebersamaan dan kedamaian. Itulah kekayaan dunia yang sesungguhnya”, ungkap Rifal di hadapan beberapa mahasiswa.

Ketua Panitia Penelitian Lapangan, Muh. Thufeil Arif Rahman, sebagai koordinator teknis lapangan, penelitian ini menilai kegiatan ini sangat bagus, karena selain bisa menjadi ajang rekreasi bersama teman-teman, juga bisa membangun interaksi dengan bangunan bersejarah dan cagar budaya.

“Jadi kita tidak lagi hanya bisa membayangkan peninggalan-peninggalan tokoh-tokoh sejarah di Sulawesi Selatan”, tuturnya.

Penelitian ini berakhir pada 2 November 2019 di Museum Lapawawoi, Kabupaten Bone, lalu dilanjutkan perjalanan pulang ke Kota Makassar.

“Hati-hati di jalan, selalu ingat dan pegang budaya Bugis kita” begitulah kata-kata perpisahan dari Andi Batara, pengelola museum, yang juga putra Pemangku Adat Kerajaan Bone, Andi Mappasissi sebelum meninggalkan museum.(rfl/ril)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here