Beranda Ekonomi BI Institute Gelar Bedah Buku Pusat Ekonomi Maritim Makassar dan Peran Bank...

BI Institute Gelar Bedah Buku Pusat Ekonomi Maritim Makassar dan Peran Bank Indonesia di Sulsel

234
0
BERBAGI
Sigit Ayitya Rahman, Prof. Dr. Rasyid Asba (kedua dari kiri), Dr. Tanri Abeng, MBA (ketiga dari kiri), dan Bambang Kusmiarso pada Bedah Buku Pusat Ekonomi Maritim Makassar dan Peran Bank Indonesia di Sulsel, pada Kantor Cabang BI Kota Makassar, Rabu (18/09/2019). - Foto: Tebar News

MAKASSAR | TEBARNEWS.com — BI Institute gelar bedah buku Pusat Ekonomi Maritim Makassar dan Peranan Bank Indonesia di Sulawesi Selatan, Rabu (18/09/2019). Kegiatan yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan ini, dimulai dengan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya, pemutaran film, dan pagelaran tarian 4 etnik. Pada sesi prabedah buku juga digelar penyerahan buku dan foto bersama.

Acara ini dibuka Direktur Bank Indonesia Institute, Dr. Arlyana Abubakar. Dalam sambutannya ia menyatakan bahwa kegiatan bedah buku ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga merupakan ajang silaturahim. Buku ini menurut dia merupakan Institusi Memory yang dibuat oleh Bank Indonesia.

“BI mendokumentasikan Institusi Memory menyangkut pemikiran dan kebijakan”, ungkapnya.

Lebih jauh ia memaparkan eksistensi BI dalam sistem perekonomian Indonesia. Menurut dia Bank Indonesia memiliki sebanyak 46 kantor di Indonesia dan hanya 16 yang memiliki sejarah kolonial. BI Makassarlah yang paling pertama didirikan.

“Buku ini setidaknya merupakan upaya mengangkat kembali marwah Makassar yang pernah jaya dalam bidang agraris dan maritim.
Intinya bagaimana kita menghargai potensi Sulawesi Selatan”, kunci Arlyana.

Kegiatan bedah buku yang dimoderatori Sigit Aditya Rahman, menghadirkan para masing-masing Prof. Dr. Rasyid Asba (Guru Besar Sejarah Unhas), Dr. Tanri Abeng, MBA (Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara (1998-199), dan Bambang Kusmiarso (Pimpinan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan).

Prof Rasyid memulai materinya dengan bahasan tentang pentingnya spesifikasi buku ini dan kontribusinya terhadap historiografi Indonesia. Ia juga mengatakan penulisan sejarah sejauh ini masih berciri event tentang peristiwa politik masa lalu.

“Melalui buku ini diulas sejarah jangka panjang Makassar dalam perspektif struktural. Makassar memiliki ruang geografis penting”, ungkapnya.

Lebih jauh Rasyid Asba menjelaskan potensi beberapa komoditi di Sulawesi Selatan yang membuat Makassar memiliki peran penting.

Pembicara kedua Dr Tanri Abeng memulai ulasannya dengan memberi apresiasi atas buku ini sebagai sumber informasi penting kaitannya dengan perdagangan. Pentingnya perdagangan dalam sistem perekonomian juga dibahas berikut contoh-contoh yang menginspirasi.

“Tidak ada sistem ekonomi yang jalan tanpa trade. Jika mau kaya maka trade-lah”, ungkapnya.

Kaitannya dengan komoditi perdagangan, Tanri Abeng mengulas perihal ketertarikan bangsa Portugis pada rempah-rempah, kebangkrutan VOC karena korupsi, ketertarikan Belanda pada komoditi Pala dan sejarah perkembangan bank di Indonesia.

Lebih jau ia banyak mengulas tentang perusahaan-perusahaan di Indonesia yang mengalami masalah karena dikelola oleh pihak yang bukan ahlinya. Kecuali perbankan yang menurutnya sangat profesional dalam penentuan pemimpin.

Tanri Abeng mengakhiri materinya dengan beberapa kata kunci antara lain kinerja ekonomi melalui perdagagan itu mutlak. Khusus mengenai manajerial, ia katakan tarulah orang-orang terbaik pada posisi terberat.

Sementara itu, pembicara ketiga Bambang Kusmiarso juga membahas penting Makassar sebagai pusat niaga serta peran Bank Indonesia.

Kegiatan bedah buku ini dihadiri sejumlah dosen, praktisi ekonomi, mahasiswa, dan undangan lainnya. Sesi tanya jawab peserta dengan para pemateri mengakhiri seluruh rankaian kegiatan ini.(am/tn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here