Beranda Sulawesi Selatan Nur Fajri Teliti Sejarah Pertanian Jeruk di Selayar

Nur Fajri Teliti Sejarah Pertanian Jeruk di Selayar

509
0
BERBAGI
Nur Fajri mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah UNM yang menulis skripsi Sejarah Pertanian Jeruk di Selayar. -- Foto: Istimewa.

TEBARNEWS.com — Kabupaten Kepulauan Selayar selain memiliki pantai yang bersih, juga dikenal sebagai daerah penghasil kelapa. Hal ini setidaknya telah dipopulerkan oleh Cristian Hersink dalam karya monumentalnya “The Green Gold of Selayar”. Meski begitu, kabupaten atau pulau berjuluk “Tanadoang” ini juga terkenal dengan produksi jeruknya. Popularitas produksi jeruk di daerah ini membuat para penjual jeruk di daerah lainnya sering menyebut jualannya sebagai jeruk Selayar agar laris terjual.

Lalu bagaimana sesungguhnya sejarah pertanian juruk di Pulau Selayar? Salah seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM) Nur Fajri, menulis skripsi tentang Sejarah Pertanian Jeruk khususnya di Batangmata Sapo.

“Menurut penuturan salah satu Informan yang saya wawancarai pada saat penelitian tugas akhir, juga bekerja sebagai seorang petani jeruk di Batangmata Sapo, akar historis orang Batangmata Sapo menanam jeruk yakni hanya memanfaatkan lahan kosong dimana mayoritas penduduk setempat adalah petani kelapa”, tulis Nur Fajri di akun Facebooknya.

Lebih lanjut dijelaskan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka, mulailah menanam jeruk dan pertama kali dilakukan percobaan pada 1942 di daerah Tamallau, salah satu nama perkampungan di daerah Batangmata Sapo.

“Hal ini diperkuat bahwa tanaman ini dibudidayakan di Selayar sudah cukup lama oleh petani. Khusus untuk daerah Selayar tanaman jeruk pertama kali diperkenalkan oleh para pedagang Selayar yang melakukan kontak dagang dengan pedagang dari Bali”, tegasnya.

Jeruk produksi pertanian Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. — Foto: Nur Fajri/fb

Meskipun demikian menurut Nur Fajri, tidak ada catatan pasti yang menyebutkan siapa orang pertama kali yang membawa bibit jeruk masuk ke Selayar, kecuali menurut informan bahwa tanaman jeruk sudah ada sebelum jepang masuk ke Selayar.

Mengutip tulisan Roesmiyanto dan Hutagalung (1989), Fajri menuliskan bahwa tanaman jeruk diintroduksi ke Selayar tahun 1925. Seiring berjalannya waktu, Batangmata Sapo merupakan salah satu Daerah salah satu sentra produksi tanaman jeruk di Selayar.

“Pada 1998- 2002 Pemda Selayar mengadakan kerjasama dengan pemerintah Jepang berupa proyek PAJ (Pengembangan Agribisnis Jeruk) diperkenalkanlah bibit JC (Japanasche Citrus) serta teknik okulasi dengan menanam bibit okulasi keprok selayar berbatang bawah jeruk Japanasche Citrus agar tanaman jeruk bisa tumbuh lebih cepat dari sebelumnya”, tutur Fajri.

Lebih jauh dijelaskan bahwa proyek ini juga memberikan dana hibah, alat dan lahan seluas 500 Ha yang dikelola secara bertahap dari 50-100 Ha untuk daerah sentra produksi yang ada di Kabupaten Kepulauan Selayar salah satunya Daerah TAMALLUA kurang lebih luas lahannya 250 Hektar.

“Daerah Tamallua merupakan cikal bakal pertanaman jeruk di Batangmata Sapo hingga menjadi daerah sentra produksi seperti yang kita kenal saat ini”, kunci Fajri.(fb/tn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here