Beranda Sekolah Pustakawan Cilik SD Negeri Borong

Pustakawan Cilik SD Negeri Borong

142
0
BERBAGI
Beberapa anak mencari namanya pada buku register peminjaman di Perpustakaan SD Negeri Borong. -- Foto: ist/handover

MAKASSAR | TEBARNEWS.com — “Siapa nama ta?” Begitu tanya Fadli kepada seorang anak yang berada di depannya. Murid kelas 2 ini tak hanya menanyakan nama. Ia juga menanyakan judul buku dan berapa buku yang dipinjam.

Kamis (16/5/2019) pagi itu, Fadli berinisiatip mencatat pengembalian buku yang dipinjam teman-temannya. Ia sebenarnya datang ke perpustakaan sekolah karena ingin mengembalikan buku yang dipinjamnya, “Peralatan Tempur “. Tapi karena ia melihat beberapa anak berebutan hendak menuliskan atau menandai namanya pada buku register Perpustakaan SD Negeri Borong, maka ia pun mengambil posisi sebagai “pustakawan”.

“Satu-satu ki antre,” begitu Fadli mengingatkan agar mereka yang mau dicatatkan buku peminjamannya lebih bersabar.

Ia lalu melanjutkan aktivitasnya sebagai pustakawan dadakan. Ia mengecek nama penulis buku, judul buku dan info lain yang ada pada sampul buku.

Selain mencatat peminjaman buku, ada juga yang hari itu mau mengembalikan buku. Asisah, murid kelas 3A, salah satu di antaranya. Asisah mengembalikan buku berjudul “Selamat Datang di Rumahku”, setelah 3 hari dipinjam. Ada juga Aulia, murid kelas 1, yang meminjam buku “Ensiklopedia Negeriku”. Menurut Aulia, buku itu hanya dipinjam sehari. Lain lagi dengan Syifa, murid kelas 1 ini paling lama dua hari sudah bisa menyelesaikan satu buku.

Anak-anak diminta mencatat kembali buku yang sudah dibacanya sebelum disimpan lagi pada rak buku. — Foto: Ist/handover.

Perpustakaan SD Negeri Borong baru diresmikan pada Desember 2018 bersamaan dengan penyelenggaraan Makassar Children’s Culture Festival. Sekolah di Kecamatan Manggala, Makassar itu sebenarnya sudah mempunyai pustakawan alumni UIN Alauddin Makassar. Namun hari itu, Jumati Oktafiany, nama pustakawan tersebut, kebetulan berhalangan.

Sejak hadirnya perpustakaan, minat anak-anak membaca buku bisa terlihat. Mereka misalnya, kadang bertanya mengapa perpustakaannya belum dibuka. Indikasi lain, menurut Rusdin Tompo, yang kerap ke sekolah itu untuk lakukan aktivitas ekskul, bisa dilihat dari jumlah buku yang dipinjam.

“Anak-anak ada yang mau meminjam sampai lima judul. Tapi saya sampaikan cukup 3 judul biar bisa berbagi dengan temannya,” kisah aktivis perlindungan anak tersebut.

Anak-anak memang diminta untuk tidak meminjam dalam jumlah yang banyak biar bisa berbagi dan bergantian dengan temannya. Apalagi koleksi perpustakaan ini masih relatif terbatas. Begitu juga, setiap kali buku-buku dipulangkan, mereka diminta untuk mencatatkannya lagi sebelum di simpan pada rak-rak buku yang diatur menempel di dinding.

Pada Sabtu (18/5/2019) sore, sebelum kegiatan ekskul minat bakat, kegiatan pustakawan dadakan berlanjut. Kali ini, Andika yang jadi pustakawannya. Murid kelas 5 itu mencatat pengambilan dan pengembalian buku seperti yang dilakukan Fadli. Karena hanya bersifat kerelawanan, Andika tak lama duduk di kursi yang biasa ditempati Kak Jumiati. Andika kemudian digantikan Anayla, sesama murid kelas 5.

Fadli, pustakawan cilik, memperlihatkan buku yang sudah selesai dibacanya. — Foto: ist/handover

Rusdin Tompo yang tengah bersiap memfasilitasi kegiatan minat bakat mengingatkan anak-anak yang masuk untuk dicatatkan namanya oleh pustakawan cilik. Tapi Andika kemudian menyela, “Apa itu pustakawan?”

Rusdin lalu menjelaskan pengertian pustakawan yang sederhana. Katanya, pustakawan itu orang yang bekerja di perpustakaan. Tugasnya membantu pengunjung menemukan buku-buku yang mau dibacanya.

Meski perpustakaan ini terbilang baru, tapi keinginan untuk mengembangkannya terus jadi bahan diskusi. Kepala SD Negeri Borong, Dra Hj Hendriati Sabir, M.Pd juga punya cita-cita menjadikan perpustakaannya sebagai smart library. Maklum, akses wifi di sekolah ini terbuka. Sehingga sangat dimungkinkan pengembangan kegiatan berbasis internet.

Dalam sebuah obrolan bersama Jumiati dan Rusdin Tompo, kepala sekolah yang akrab disapa Bu Indri ini malah ingin ada program donasi atau wakaf buku untuk menambah koleksi perpustakaannya. Donasi buku bisa dari masyarakat, komunitas, penerbit, atau orangtua dan para alumni.

“Donasi atau wakaf buku ini mungkin bisa dimulai dari anak-anak yang lulus tahun 2019 ini?” usul Bu Indri yang diiyakan oleh kedua teman diskusinya.(ril/rt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here