Beranda Kampus Sejarah Indonesia Bukan Hanya Tentang Perang, Politik & Pemerintahan

Sejarah Indonesia Bukan Hanya Tentang Perang, Politik & Pemerintahan [Seminar Perpus Sejarah UNM]

162
0
BERBAGI
Pemateri Drs. La Malihu, M.Hum (kanan), Dr. Abd. Rahman, M.Si (tengah) dan moderator Abdul Karim, S.Pd. FOTO: IST

MAKASSAR | TEBARNEWS.com — “Sejarah Indonesia Bukan Hanya Tentang Perang, Politik & Pemerintahan”, itulah prawacana yang mengemuka mengiringi jalannya pemaparan materi dalam seminar sejarah di Kampus Universitas Negeri Makassar, Selasa (02/04/2019). Seminar yang digelar pengurus Perpustakaan Jurusan Pendidikan Sejarah UNM ini, menghadirkan dua pembicara masing-masing Drs. La Malihu, M.Hum (dosen mata kuliah Historiografi dan Metodologi Sejarah UNM) dan Dr. Abd. Rahman, S.Pd, M.Si (alumni UNM dan Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia).

Kegiatan seminar yang dimoderatori Abdul Karim, alumni Sejarah UNM yang juga sedang studi S2 di UI ini, menampilkan narasumber pertama yakni Drs. La Malihu, M. Hum. Dalam pemaparan materinya, ia menguraikan tentang Historiografi Annales yang sudah lama berkembang dari Perancis sejak 1929. Aliran historiografi ini dipelopori Oleh Lucian Vebvre dan March Bloch, yang menentang penulisan sejarah konvensional; sejarah politik dan event dan memperkenalkan konsep struktur dan Konjunkture.

“Perpektif baru penulisan sejarah di Indonesia sangatlah penting untuk menguraikan kompleksitas dari keseluruhan kajian peristiwa yang tidak hanya dimensi politik, atau peristiwa di daratan saja, namun pentingnya ditulis dalam perspektif sejarah kawasan laut yang dilihat sebagai media penghubung antar pulau di Indonesia”, ungkapnya.

Wakil Rektor IV UNM Prof. Dr. Gufran Darma Dirawan, M.EMD, bersama pemateri dan lainnya dalam sesi foto bersama di sela-sela kegiatan seminar Perpustakaan Jurusan Sejarah UNM, di Ballroom Menara Pinisi, Selasa (02/04/2019). FOTO: AMIRULLAH

Lebih lanjut La Malihu yang juga alumni Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (UI), menguraikan bahwa penulisan sejarah di Indonesia tidak hanya pada penulisan sejarah perang, politik dan pemerintahan. Tantangan sejarawan akan datang, menurutnya adalah bagaimana menghadirkan teknologi dalam menulis sejarah seperti dicontohkan bahwa pentingnya pengetahuan dalam mengedintifikasi apakah berita atau foto itu hoax sebelum ditampilkan atau ditulis sebagai sejarah Indonesia.

“Ini penting dan menjadi tantangan bagi sejarawan kedepannya”, tegasnya.

Narasumber kedua yakni Dr. Abd. Rahman Hamid, M.Si, membahas bahwa ada dua peristiwa yang penting sebagai awal penulisan sejarah yakni Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 dan kedua Seminar Sejarah Nasional Indonesia.

Lebih jauh ia menguraikan bahwa ada salah satu tokoh sejarawan perintis Historiografi Indonesia sentris yakni Sartono Kartodirjo.
Hal menarik untuk penulisan sejarah sekarang ini menurutnya adalah penulisan sejarah Indonesia dalam perspektif sejarah maritim.

“Perspektif penulisan sejarah Indonesia sangat penting berfokus pada kajian bahari sebagai aktor penulisan sejarah saat ini”, ungkapnya.

Kegiatan yang berlangsung pagi hingga siang ini, dihadiri sekira 200 peserta. Mereka datang dari berbagai kampus di Makassar, seperti: Unhas, UIN dan UNM sendiri. Bahkan terlihat beberapa di antaranya ada guru dan sejumlah alumni.(amirullah/ril)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here