Beranda Sekolah SD Inpres Unggulan BTN Pemda Adakan FGD Pengintegrasian Isu Pemanasan Global dan...

SD Inpres Unggulan BTN Pemda Adakan FGD Pengintegrasian Isu Pemanasan Global dan Perubahan Iklim ke Dalam Pembelajaran

73
0
BERBAGI
Foto bersama fasilitator Yasmain Gasba, Kepsek SD Inpres Unggulan BTN Pemda, Dr. Andi Agusniati bersama dengan peserta FGD. FOTO: IST

MAKASSAR | TEBARNEWS.com — Isu-isu lingkungan perlu diintegrasikan ke dalam pembelajaran, supaya peserta didik punya kesadaran yang kuat sejak dini. Dengan pemahaman yang memadai seputar fenomena kerusakan alam, diharapkan mereka bisa mengambil peran dan memiliki perilaku yang ramah lingkungan.

Pemikiran inilah yang menjadi dasar diadakannya Focus Group Discussion (FGD) bertema Pengintegrasian Global Warming dan Climate Change ke dalam Pembelajaran oleh SD Inpres Unggulan BTN Pemda, dengan peserta dari guru-guru sekolah Adiwiyata se-Makassar, pada Sabtu (19/1/2019).

Disadari bahwa isu pemanasan global
(global warming) dan perubahan iklim (climate change) masih kurang dipahami oleh guru. Padahal mereka perlu mentransfer pengetahuan dan mempraktikkannya bersama para siswa di sekolah.

“FGD itu merupakan bagian dari Gerakan Penanaman Sejuta Pohon, namun di sekolah kami penanaman pohonnya secara bersama digabung dengan sekolah lain, pada 30 Januari nanti,” jelas Dr. Hj. Andi Agusniati, M.Pd, Kepala SD Inpres Unggulan BTN Pemda.

Yasmain Gasba, M.Pd, yang bertindak sebagai fasilitator FGD, mengakui bahwa upaya memberikan pemahaman terkait materi perubahan iklim dapat dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana, seperti menanamkan konsep pentingnya air bagi pertumbuhan tanaman, serta ketersediaan oksigen dan metabolisme tubuh manusia agar senantiasa sehat.

Yasmain yang memiliki interes pada bidang lingkungan itu menyarankan, sekolah perlu membuat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang disusun sebagai arah aktivitas seluruh warga sekolah. KTSP ini disusun berdasarkan pada hambatan, tantangan, potensi dan sumber daya sekolah guna meningkatkan kompetensi anak sesuai prinsip tumbuh kembang anak. Sehingga nanti bukan saja ada pemahaman tentang perubahan iklim tapi juga perubahan perilaku yang ditunjukkan baik di sekolah maupun di rumah.

“Sederhana saja hal-hal yang diajarkan, seperti menonaktifkan saklar lampu yang tidak digunakan, juga mengganti minuman kemasan dengan penggunaan botol air,” jelas penyandang magister pada jurusan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Makassar (UNM) itu.

Yasmain yang sehari-hari merupakan Kepala Seksi Pembelajaran Bidang PAUD DIKMAS Dinas Pendidikan Makassar menjelaskan, melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), maka sekolah dalam satu wilayah perlu membedah kurikulum yang akan diajarkan, termasuk materi perubahan iklim, baik dalam materi pembelajaran maupun aktivitas sosialnya. Misalnya melalui kerja bakti, penanaman pohon, dan pemeliharaan hewan, temasuk juga lewat promosi literasi seperti mewarnai, menulis puisi atau membuat poster, sehingga aktivitas yang akan dilakukan dapat berdampak spasial menyeluruh.

Andi Agusniati menjelaskan, pihaknya mencoba menggali pengetahuan anak-anak tentang lingkungan melalui metode menggambar. Anak-anak yang baru duduk di kelas 1, 2, dan 3 diminta menggambar pohon, sedangkan yang di kelas 4, 5, dan 6 menggambar hutan, boleh hutan yang masih lebat atau yang sudah gundul.

“Anak-anak bukan sekadar menggambar tapi ada juga deskripsinya, sekaitan dengan gambarnya tersebut. Jadi kita bisa tahu apa yang mereka pahami tentang manfaat hutan dan dampak kerusakannya,” terang Andi Agusniati, yang sekolahnya sudah meraih Adiwiyata Nasional itu.

Murid-murid SD Inpres Unggulan BTN Pemda melakukan aktivitas di Green House. FOTO: IST

Sementara itu, Nuraeni Amir, S.Pd, guru kelas 4 SD Inpres Unggulan BTN Pemda, mengungkapkan bahwa di sekolahnya sudah diajarkan tentang fungsi pohon sebagai penghasil oksigen melalui kegiatan praktik dan simulasi. Pendekatan seperti itu dilakukan agar anak-anak lebih mudah memahami karena mereka punya pengalaman langsung.

Tindak lanjut dari kegiatan ini, kata Bu Eni, yakni guru dituntut mengaplikasikan pengetahuan di kelas, sedangkan kepala sekolah sebagai stakeholder akan melakukan supervisi.

“Gerakan penanaman pohon harus dibarengi dengan program-program strategis dan berkelanjutan demi anak cucu kita nanti,” pesan Andi Agusniati.(rt/ril)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here