Beranda Kolom Tata Ruang Tambak

Tata Ruang Tambak

346
0
BERBAGI

TAMBAK bagi masyarakat yang berdomisili di pedesaan sudah akrab dengan situasi dan kondisi pertambakan. Pasalnya tambak merupakan salah satu penghasil uang bagi masyarakat dan khususnya yang bermukim di wilayah pesisir. Walaupun tetap ada yang berprofesi sebagai nelayan tapi tidak sedikit juga masyarakat sebagai petani tambak. Wajar saja jika tambak semakin luas karena banyak warga yang membuka lahan baru meski sebenarnya lahan atau lokasi tersebut sudah tidak cocok atau kurang bagus lagi untuk areal pertambakan.

Akan tetapi masyarakat tidak peduli dengan situasi atau lokasi lahan tersebut. Mereka tetap membuka tambak baru demi untuk mengejar keuntungan. Terlebih kalau melihat temannya berhasil meraup keuntungan dari hasil tambaknya, maka yang lainnya juga terpancing untuk membuat tambak baru. Padahal, kalau dilihat sepintas lahan tersebut sudah kurang bagus untuk melakukan budidaya ikan dan udang sebab air sebagai sumber utama dalam budidaya tidak mampu lagi mengairi tambak tersebut. Artinya air laut yang melewati sungai tidak sampai lagi ke tambak warga yang baru dibangun, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan air payau atau air asin.

Namun, masyarakat tidak peduli dengan itu semua sehingga untuk melakukan budidaya terpaksa mereka harus memompa dari sungai untuk mendapatkan air asin. Hal ini juga menambah biaya sebelum melakukan budidaya, sehingga sangat kurang tepat dilakukan. Bukan hanya itu, warga juga rata-raa yang tidak memiliki sumber air asin dari sungai itu biasanya memanfaatkan air tanah dengan cara melakukan pengeboran. Jadi sumber air asinnya itu dari bawah tanah. Namun perlu diketahui bahwa air dari tanah itu kurang subur atau tidak ada pakan alaminya sehingga harus terlebih dahulu ditampung untuk diberikan perlakuan khusus supaya pakan alami itu tumbuh.

Tapi kenyataan di lapangan masyarakat langsung memasukkan air tersebut di dalam tambaknya, sehingga budidaya yang dilakukan kurang bagus alias pertumbuhan ikan dan udang sangat lambat. Olehnya itu, masyarakat harus pahami bahwa kalau memang tidak bisa sampai sumber air lautnya, maka tidak perlu lagi membuka  tambak baru karena itu sangat merugikan. Baik itu dari segi biaya maupun dari tenaga. Dengan demikian, maka perlu adanya tata ruang tambak yang diatur oleh pemerintah. Sebab selama ini membangun tambak itu asal jadi tanpa memperhitungkan segala sesuatunya termasuk saluran pemasukan air dan saluran pembuangan.

Oleh karena itu, peraturan tata ruang tambak yang dibuat oleh penentu kebijakan sangat baik untuk kepentingan masyarakat,  sebab paling tidak warga tidak asal membuka tambak baru tapi harus mengacu pada peraturan yang ada agar pertambakan dapat tertata dengan baik.

Hal ini sangat perlu dalam melakukan budidaya sebab saluran pembuangan itu tidak boleh disatukan dengan saluran pemasukan sumber air. Karena ini bisa berpengaruh terhadap organisme yang ada di dalam tambak. Akan tetapi, kenyataannya masyarakat kurang peduli dengan saluran ini sehingga tidak heran jika banyak petani tambak yang gagal panen karena terserang dengan berbagai penyakit. Terutama jika budidaya udang windu yang memang dikenal sangat manja dan rewel sehingga penanganannya benar-benar bisa dimaksimalkan.

Olehnya itu, pemerintah harus turun tangan dalam menata kembali tambak-tambak yang ada itu, sehingga ke depan bisa menghasilkan sesuai dengan harapan masyarakat. Pasalnya, tata ruang ini penting bagi lingkungan sebab saat ini petambak tidak peduli dengan lingkungan sehingga air tambaknya yang sudah tidak layak pakai alias sudah tercemar tidak bisa dikeluarkan karena saluran pembuangan ke sungai tidak ada, sehingga kesulitan mengantispasi air yang sudah tercemar.

Kalau tata ruang tambak telah terbentuk maka sudah pasti bahwa semua petambak tidak ada lagi yang susah dalam mengambil air asin dari sungai maupun jika ingin membuang air tambaknya. Karena semuanya sudah disiapkan dan lingkungan sudah pasti terbebas dari berbagai bahan pencemar hasil buangan tambak.

Olehnya itu, tata ruang tambak harusnya dipikirkan dan itu pemerintah harus menatanya agar petani tambak tidak seenaknya membuka lahan baru tanpa memperdulikan di sekelilingnya. Kalau memang tidak layak lokasinya maka itu harus dilarang agar tidak terjadi kasus-kasus yang dapat merugikan banyak orang. Mudah-mudahan tata ruang tambak ini bisa dipikirkan dan diwujudkan agar ke depan lingkungan bisa ditata dan masyarakat juga bisa menikmati dalam melakukan budidaya karena semuanya dipermudah. Semoga !

Penulis adalah Alumni Pasca Sarjana Manajemen Pesisir dan Teknologi Kelautan (MPTK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here