Beranda Artikel Opini Mencari Caleg yang Bersih

Mencari Caleg yang Bersih

490
0
BERBAGI

BEBERAPA hari terakhir ini masyarakat disibukkan dengan urusan politik. Pasalnya tahun ini dan tahun depan merupakan tahunnya para politikus lantaran pilpres dan pemilihan anggota legislatif yang akan digelar di tanah air. Meski pilkada gubernur, walikota dan bupati di tanah air sudah usai, namun aroma pilkada itu masih terasa di sekeliling kita. Belum lagi yang tersangkut dengan proses hukum yang sementara bergulir di MK (Mahkama Konstitusi).

Pesta demokrasi ini tentunya menyita perhatian publik lantaran banyak calon anggota legislatif yang mendaftar untuk duduk di parlemen. Pasalnya, anggota legislatif yang bakal menyemarakkan perpolitikan di tanah air membuat semua orang tertarik untuk mendaftarkan diri baik orangnya yang bersih maupun yang sudah tersandung dengan kasus korupsi alias luaran Lembaga Pemasyarakatan atau penjara.

Hal ini tidak terlepas dengan besarnya “magnet” legislatif sehingga orang berlomba untuk menjadi anggota dewan. Meski sudah ada aturan yang melarang mantan narapidana korupsi untuk ikut mencalonkan diri pada pemilihan anggota legislatif, namun aturan dan larangan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu terksan diabaikan. Bahkan beberapa calon anggota legislatif itu terjaring dan ketahuan mantan narapidana korupsi. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi karena sudah ada aturan yang dikeluarkan oleh penyelenggara pemilu sehingga orang harus mentaatinya.

Ilustrasi. FOTO: POSKOTANEWS.COM

Akan tetapi bukan lagi Negara Indonesia namanya kalau semua orang menurut dan menjalankan aturan itu dengan baik. Setahu saya orang Indonesia banyak yang membangkan dan tidak mau taat  aturan. Bukan hanya di partai politik tapi juga kehidupan sehari-hari dan itu masyarakat umum sering tersangkut dengan aturan tersebut. Salah satu contoh adalah pengendara kendaraan yang selalu melanggar lampu lalulintas sehingga tidak sedikit mereka ditilang karena pelanggarannya. Mereka hanya takut pada polisi, sementara lampu lalulintas tidak ditakuti bahkan tidak sedikit orang yang menerobosnya. Padahal itu tidak boleh dilanggar karena sudah menyangkut aturan.

Kalau terjadi kecelakaan baru mereka menyesal karena hampir semua orang hanya takut pada orangnya (polisi) yang berdiri di pinggir jalan. Tapi kalau aturannya tidak takut. Begitu pula dengan orang yang sudah tersangkut kasus korupsi dan sudah bebas dari penjara lalu mendaftar sebagai calon anggota dewan. Padahal sudah ada aturannya.

Olehnya itu, bagi orang yang sudah jelas tidak masuk dalam persyaratan maka tidak usah mendaftar karena selain membuat malu diri sendiri juga sudah ketahuan bahwa ini orang tidak bersih. Sementara yang dicari untuk duduk di parlemen adalah orang yang bersih. Masih banyak orang bersih di tanah air sementara orang sudah tersangkut kasus korupsi yang diloloskan. Olehnya itu, pihak yang berwenang dalam penyelenggara pemilu harus tegas dalam menyaring berbagai calon yang akan mendaftar. Kalau memang ketahuan tentunya sikap kejujuran harus diutamakan agar anggota dewan tidak ternoda dengan orang-orang yang sudah “rusak”.

Negara ini memiliki orang bersih dan harusnya mencari juga orang bersih untuk duduk sebagai wakil rakyat. Memang diakui bahwa setiap orang memiliki hak untuk melakukan berbagai aktifitas termasuk dalam mencalonkan diri, tapi kan ada namanya persyaratan yang harus dilewati sehingga orang-orang mantan napi korupsi ini harus legowo dan tahu diri bahwa tidak mungkin lolos lagi. Jadi selain membuang-buang waktu dan tenaga juga rugi materi karena berbagai persiapan harus dilakukan dan itu semua memerlukan materi.

Jadi calon anggota dewan ini sebaiknya merasa dan tidak perlu memaksakan kehendak untuk menjadi anggota legislatif. Sebab masyarakat sekarang sudah pintar. Walaupun seandainya lolos dalam pencalonan, tapi masyarakat sudah tahu bahwa ini orangnya sudah tersangkut kasus korupsi maka sudah dapat dipastikan bahwa rakyat tetap tidak memilihnya. Kini rakyat sudah cerdas dalam memberikan suaranya dan tidak tergoda lagi dengan bujuk rayuan yang ditebarkan oleh para calon anggota legislatif. Rakyat sudah cerdas melihat figurnya, bukan lagi melihat partai. Meski partainya besar tapi calon yang disodorkan itu bermasalah maka masyarakat akan tetap menolaknya dengan cara tidak mencoblosnya.

Olehnya itu, kalau negara ini mau bersih dari segala persoalan maka orang-orang bersihlah yang harus duduk di parlemen. Sebab kalau sudah mantan napi korupsi itu sedikit banyaknya pasti ada imbasnya dalam menjalankan tugasnya. Siapa tahu mengingat masa lalunya, maka korupsi pasti terjadi lagi. Jadi sebaiknya orang yang bersih dibutuhkan negara ini agar kasus-kasus korupsi yang melanda negara ini segera berakhir.

Kapan lagi kita mencari orang yang bersih duduk di parlemen kalau bukan sekarang. Sebab lima tahun duduk di parlemen itu bukan waktu yang singkat, sehingga diperlukan orang bersih. Mari kita sama-sama introspeksi diri dan rela mundur kalau memang sudah ada persoalan sebelumnya. Mudah-mudahan pemilihan legislatif akan datang itu menjaring orang yang bersih dan masyarakat juga diharapkan memilih orang yang pantas mewakilinya di parlemen.

Semoga apa yang kita harapkan bersama bisa terwujud tanpa ada halangan yang berarti. Mari kita satukan tekad untuk memberantas korupsi di tanah air dan mencari caleg yang bersih dari kasus-kasus korupsi agar negara ini bisa lebih maju kagi. Semoga !

Penulis adalah Direktur Pijar Press, tinggal di Kota Makassar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here