Beranda Artikel Opini Kolom Kosong Cegah Golput

Kolom Kosong Cegah Golput

354
0
BERBAGI

PESTA demokrasi yang baru berlalu di daerah ini dan khususnya di Kota Makassar menyisakan berbagai cerita unik dan lucu. Hal itu sudah dipahami oleh masyarakat terutama masalah pasangan calon pemimpin di kota ini yang bertarung dengan kotak kosong alias kolom kosong. Pasalnya, kolom kosong dianggap sebagai pemenang setelah adanya penetapan hasil perhitungan surat suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara resmi. Kemenangan kolom kosong (Koko) membuat masyarakat merasa senang karena mungkin itulah pilihannya. Wajar saja jika anekdot bermunculan di tengah masyarakat bahwa saat ini Kota Metropolitan harus dipimpin “Walikota Koko”, sehingga siapa saja yang ingin melapor langsung saja kepada “pak Koko”.

Pelesetan ini membuat orang selalu tertawa dan bahkan ada terpingkal-pingkal karena yang dimaksud Koko itu tidak ada orangnya. Wajar saja kalau sekarang koko menjadi perhatian masyarakat sehingga ini sangat lucu bila melihat tingkah laku sebagian masyarakat yang memang suka dengan kelucuan. Jika dipikir koko tidak seharunya menjadi pemenang pada pemilihan walikota Makassar, sebab koko tidak memiliki orang yang bisa menahkodai “Kota Daeng”, tapi kenyataannya itulah yang terjadi. Mestinya Paslon Appi Cicu harus menang jika dilihat dari dukungan partai politik. Dimana partai politik disapu bersih dan mendapatkan 10 partai sebagai pengusungnya, sehingga wajarlah kalau dia menang.

Ilustrasi. FOTO:MAKASSAR.SINDONEWS.COM

Pasalnya, partai politik itu tidak terlepas dengan dukungan masyarakat. Sebab tidak mungkin ada partai yang muncul jika masyarakat tidak mendukungnya. Akan tetapi, kenyataan di lapangan partai pendukung Appi ini tidak bisa berbuat banyak. Bahkan terkesan “dipermalukan” karena hanya sebuah kolom kosong bisa keok dan tak berdaya. Hal ini menjadi catatan tersendiri dalam pemilihan selanjutnya. Apalagi tahun depan terjadi pemilihan presiden, sehingga  mau atau tidak partai politik dari bawah itu menjadi rujukan di tingkat pusat.

Sebab apa gunanya banyak partai pendukung kalau tidak mampu menyatukan suara rakyat. Jika dipikir dan dilihat maka Appi harusnya menang karena dukungan partai banyak. Namun, partai ini hanya sebuah “hiasan” saja tanpa bisa berbuat sesuatu. Memang hiasan tidak mampu memberikan yang terbaik karena sifatnya hanya pasif dan tidak bisa bergerak. Bagusnya hanya di pandangan tanpa ada gerakan. Jadi partai politik pendukung Appi hanya cerminan bagi orang atau lawan politiknya bahwa inilah partai politik yang siap memenangkannya. Tapi apa lacur semua itu hanya kamuflase saja.

Olehnya itu, mulai saat ini partai politik bukan jaminan bisa memenangkan calonnya dalam pertarungan pilkada. Kita harus waspada dan cermat dalam memilih partai politik yang memang benar-benar siap mendukung dan disukai oleh masyarakat. Sebab biar bagaimanapun partai selalu mengatas namakan masyarakat, tapi masyarakatnya tidak suka  tentu  partai politik tidak bisa berbuat banyak. Hal ini sudah terbukti bahwa Pilwalkot Makassar sudah dikalahkan oleh sebuah Kolom Kosong yang tidak ada orangnya.

Olehnya itu, kedepan memang perlu dipikirkan oleh penyelenggara pemilu bahwa kolom kosong sangat besar perannya sehingga perlu disiapkan ruang atau tempat khusus agar masyarakat menyalurkan suaranya. Meski calon pemimpin cukup dua tetap kita siapkan kolom kosong untuk mencegah terjadinya Golput. Sebab banyak juga masyarakat tidak memilih hanya karena tidak senang dengan pasangan atau calon yang akan dipilihnya, sehingga mereka memilih golput. Nah, kalau disiapkan kolom kosong tentunhya masyarakat menunjuk kolom kosong jika kedua calonnya tidak disetujui.

Olehnya itu, kolom kosong mencegah golput di masa datang. Sebab apalah artinya selalu ada calon tapi kalau masyarakat tidak setuju sehingga memilih untuk tidak mencoblos. Disinilah peran penyelenggara pemilu dimasa akan datang untuk memikirkan betapa pentingnya kolom kosong. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua khusunya warga kota Makassar sebab barusan terjadi dalam sejarah bahwa di Makassar Kolom Kosong menjadi pemenang pilwalkot. Sementara di daerah lain di Sulsel tetap yang ada orangnya menjadi pemenang, meski tetap ada kolom kosong.

Hal ini membuktikan bahwa selain masyarakat memilih sesuai dengan hati nuraninya, juga partai politik tidak dianggap lagi oleh masyarakat. Jadi lebih baik menyediakan kolom kosong untuk menghindari adanya golput pada pemilihan selanjutnya. Mari kita renungkan bahwa ini tidak seharusnya terjadi di era keterbukaan. Tapi itulah yang kenyataannya.  Apalagi masyarakat sudah cerdas dalam melihat dan memilih yang memang pantas untuk menjadi pemimpin. Kita tidak boleh lagi selalu menerapkan pola lama dengan menyakinkan para calon bahwa masyarakat pasti mendukung.  Satu perintah langsung diikuti oleh yang dituakan. Sekarang ini sudah tidak berlaku lagi karena rakyat sudah cerdas.

Jadi tidak perlu membuat komentar yang selalu mengatas namakan masyarakat jika berhadapan para kandidat hanya untuk meraih simpati. Sekarang perlu meruba pola agar masyarakat bisa menyalurkan suaranya sesuai dengan keinginannya. Salah satunya adalah menyiapkan kolom kosong agar tidak terjadi golput. Mudah-mudahan penyelenggara pemilu bisa memikirkan ke depannya agar semua bisa berjalan sesuai dengan keinginan semua pihak. Semoga tidak ada lagi golput pada pilkada dimasa akan datang. Semoga!

——————-

Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Penulis Indonesia Makassar (IPIM) Sulsel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here