Beranda Kolom Menjaga Kelestarian Rajungan

Menjaga Kelestarian Rajungan

506
0
BERBAGI

Sumber Daya Alam laut masih tetap menjanjikan sehingga orang pun selalu memburunya. Tak terkecuali dengan kepiting rajungan yang selama ini banyak dijual di pasar. Akan tetapi akhir-akhir ini rajungan sebagai makanan laut yang sangat digemari oleh hampir semua orang sudah mulai berkurang. Pasalnya, perburuan rajungan oleh nelayan ini karena harganya cukup tinggi sehingga para nelayan selalu tertarik untuk mengambilnya.

Pasalnya, rajungan bukan hanya masyarakat yang berdomisili di daerah atau pedalaman yang menyukainya tapi juga masyarakat yang tinggal di perkotaan. Wajar saja jika rumah makan selalu  menyediakan rajungan (seafood) sebagai menu favorit. Sebab banyak masyarakat yang mencari rajungan ini sebagai santapan “bergengsi” karena harganya cukup menguras isi kantong. Tapi masyarakat tetap antusias untuk membelinya. Wajar saja jika rajungan yang ada di laut sudah mulai berkurang karena banyaknya orang yang memburu untuk dijual.

Belum lagi dengan perusahaan ekspor impor hasil laut dan khususnya kepiting rajungan yang sudah dikeluarkan isinya lalu dikalengkan dan dikirim keluar negeri. Pengusaha ini memang sengaja membeli rajungan dari nelayan dengan harga cukup tinggi sehingga nelayan ini pun semakin tertarik untuk mengambilnya dari laut. Tidak heran jika rajungan yang dulunya banyak dijual atau dijumpai di pasar tradisional, kini sudah tidak ditemukan lagi. Sebab para nelayan lebih suka menjual kepada pengusaha rumah makan atau pengusaha ekspor import karena harganyan cukup mahal. Sementara kalau di pasar tradisional itu masih murah karena daya beli masyarakat tergolong rendah.

Ilustrasi. Kepiting Rajungan yang perlu dijaga kelestariannya. FOTO:INDONETWORK.COM

Oleh karena itu, perburuan rajungan di laut membuat komoditi ini semakin berkurang karena para nelayan selalu mengambilnya, baik yang masih berukuran kecil dan bertelur tetap diambilnya. Melihat kondisi ini maka kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan melarang nelayan mengambil rajungan yang kecil dan bertelur. Walaupun awalnya mendapat protes tapi lama kelamaan akhirnya nelayan juga menyadari bahwa kalau itu dilakukan maka tidak ada lagi generasi baru yang bisa diambil.

Bisa dibayangkan kalau rajungan yang berukuran kecil diambil, selain harga jualnya tergolong rendah (murah) juga harus mengambil banyak baru mendapatkan hasil yang lumayan. Berbeda kalau ukurannya besar jumlahnya sedikit tapi harga jualnya cukup banyak. Begitu pula dengan rajungan yang masih bertelur sebaiknya juga jangan diambil karena itu akan mewariskan generasi baru. Kalau ini diambil tentunya populasi kepiting rajungan tidak bisa lagi bertambah karena tidak ada bibitnya.

Olehnya itu, diharapkan kepada para nelayan meski tidak ada larangan dari pemerintah maka kita tetap melihat dan memperhatikan mana yang pantas diambil dan mana yang belum bisa diambil. Tinggal moral para nelayan ini yang berbicara karena untuk mengawasinya tentu  sangat tidak bisa karena tempatnya di laut dan susah untuk dikontrol. Juga pengusaha dan pemilik rumah makan bisa menekan atau tidak membeli kepiting rajungan yang ukuran kecil dan yang bertelur agar nelayan tidak seenaknya mengambil, sehingga sumber daya alam laut ini bisa tetap terjaga kelestariannya dan berkembang.

Kalau para nelayan bisa menahan diri untuk mebiarkan rajungan kecil itu tumbuh besar maka ke depan hasilnya akan banyak. Termasuk yang bertelur juga harus dijaga agar bisa memberikan keturunan yang banyak. Semoga rajungan ini bisa diselamatkan agar sumber dalam alam ini bisa bertahan dan dapat dinikmati oleh generasi akan datang. Semoga !

Penulis adalah Alumni Pascasarjana Manajemen Pesisir dan Teknologi Kelautan (MPTK) Universitas Muslim Indonesia (UMI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here