Beranda Traveling Legenda Danau Biru Kolaka Utara

Legenda Danau Biru Kolaka Utara

1983
0
BERBAGI

KOLAKA UTARA, TEBARNEWS.COM — Pada Rabu pagi (20/6/2018) awan hitam kulihat menggelayut manja di langit Kolaka Utara, ketika sebuah hasrat membawaku berziarah ke Danau Biru. Sebuah obyek wisata yang saat ini lagi booming dan diperbincangkan banyak orang.

“Tidak lengkap rasanya perjalanan ke Kolaka Utara jika tidak berkunjung ke Danau Biru”, begitulah ungkapan orang-orang yang telah menikmati keindahan alam destinasi wisata tersebut.

Tidak lama kemudian kaki-kaki hujan itu pun berjinjitan di kolong langit mencipta basah dan hijau dedaun pada pohon-pohon itu kuyup karenanya.

Jarum jam di pergelangan tanganku telah menunjuk pukul 11.30 WITA, saat aku dan rombongan tiba di tempat ini. Dari Lasusua ibukota Kabupaten Kolaka Utara, kami menempuh perjalanan darat sekira 1,5 jam dengan kecepatan kendaraan yang cukup santai.

Lebatnya hujan memaksa kami berdiam diri sejenak menunggu ia reda, seperti halnya para pengunjung lainnya. Mereka kulihat berteduh di warung-warung, gazebo, mushallah, dan tempat lainnya di bibir pantai tersebut.

Obyek wisata Danau Biru yang berada wilayah administif pemerintah Desa Walasiho, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ini, menawarkan pesona ganda yang dapat dinikmati secara bersamaan. Mengapa? Danau jernih dengan air payau ini jaraknya hanya sekira 30 meter dari bibir pantai.

Salah satu sudut pemandangan Danau Biru, di Desa Walasiho, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka Utara, Rabu (20/6/2018). FOTO:AHMADIN/TEBARNEWS.COM

Pesona Danau Biru

Hujan yang tak kunjung reda pada pagi menjelang siang hari itu, tak mengendorkan semangatku untuk menikmati keindahan danau itu. Belum lagi sebuah ajakan cukup menantang dan sedikit provokatif, terlontar beberapa kali dari salah seorang keluarga yang sejauh ini bermukim di Kolaka Utara semakin memicu keinginanku.

“Ayolah kak, gambar latar itu mahal. Tidak ada apa-apa kita basah karena hujan demi mendapatkan foto yang menarik”, ajaknya menantang.

Di bawah rerintik hujan yang mulai reda, aku beranjak dari area parkir di bibir pantai itu dan berjalan menaiki anak tangga menuju Danau Biru. Dan…wow…. sungguh indah memang danau yang selama ini hanya kunikmati lewat gambar dan cerita orang-orang. Ia tampak begitu biru jernih di antara dinding batu yang berdiri kukuh dan rimbun pohon yang menawarkan keteduhan nan indah.

Belum lagi hasrat memotret itu terpenuhi semuanya, hujan pun kembali turun. Aku berusaha untuk berteduh pada sela-sela dinding batu, meski akhirnya harus basah juga.
Tidak ada jasa sewa payung di tempat ini, sementara 1 payung yang kubawa hanya cukup untuk melindungi istri dan anak yg juga turut bersamaku.

Di bawah rintik hujan siang itu, aku mencoba memanfaatkan payung berwarna milikku sebagai obyek gambar yang kupikir bisa padu dengan latar suasana alam danau. Ternyata ideku berhasil dan hujan tidak perlu menjadi aral serta penghalang untuk memotret.

Perpaduan warna payung dengan latar pemandangan alam Danau Biru, Rabu (20/6/2018). FOTO:AHMADIN/TEBARNEWS.COM
Gambar dengan latar tebing batu di Danau Biru, Rabu (20/6/2018). FOTO:AHMADIN/TEBARNEWS.COM
Gambar dengan latar danau dan tebing batu, Rabu (20/6/2018). FOTO:AHMADIN/TEBARNEWS.COM

Danau Biru dalam Legenda

Sebagaimana keberdaaan danau di berbagai tempat yang selalu dihubungkan dengan cerita legenda, Danau Biru di Kolaka Utara pun memiliki cerita rakyat (foklor) yang diwariskan secara turun-temurun.

Di kalangan warga setempat yakni Desa Walasiho dan sekitarnya, berkembang cerita bahwa keberadaan Danau Biru erat kaitannya dengan dengan seorang putri raja di masa lampau. Konon suatu masa seorang putri Makole (raja) secara diam-diam meninggalkan rumahnya karena keinginannya tidak terpenuhi. Selama berhari-hari lamanya sang putri berdiam diri dalam hutan.

Ilustrasi. Danau Biru yang menurut cerita rakyat, sebelumnya adalah tempat duduk putri raja dan akhirnya mengeluarkan air hingga menjadi danau. FOTO:AHMADIN/TEBARNEWS.COM

Suatu ketika keingin sang putri itu pun terpenuhi dan memutuskan meninggalkan tempat tersebut. Pada saat ia beranjak dari tempat duduknya inilah tiba-tiba keluar air yang makin lama semakin banyak hingga akhirnya membentuk genangan air yang jernih. Inilah yang sekarang kita kenal dengan sebutan Danau Biru.

Entah benar atau tidak hal tersebut, seperti itulah cerita yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan ada sebuah cerita lain yang misterius dituturkan oleh salah seorang pengunjung bahwa di tempat ini sangat dilarang bertutur kata sembarangan dan apalagi sombong karena bisa berakibat fatal. Konon suatu waktu seorang pengunjung yang mandi lalu melompat dari atas tebing ke dalam danau, tapi orang tidak muncul lagi ke permukaan.

Rute & Tarif Masuk Area Danau Biru

Obyek wisata Danau Biru di Desa Walasiho, dapat dikunjungi dari dua arah jalur transportasi darat. Bagi anda yang berada di ibukota Kabupaten Kolaka Utara, Lasusua (melalui penyeberangan Pelabuhan Siwa-Tobaku atau jalur lingkar Malili) dapat mengakses lokasi ini ke arah selatan dengan mobil dan motor melintasi jalan beraspal mulus di bukit dan gunung-gunung yang menghamparkan pemandangan indah. Perjalanan dari Lasusua memakan waktu sekira 1,5 jam dengan kecepatan kendaraan sedang (normal).

Sebaliknya, dari arah selatan misalnya Kendari (ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara) dapat berlunjung ke Danau Biru dengan melewati sebanyak 3 kabupaten yakni Konawe, Kolaka Timur, dan Kolaka dengan jarak tempuh normal sekira 7 jam. Bahkan sebelum tiba di lokasi ini, anda bisa menikmati wisata alam Tamborasi 30 menit sebelum tiba di Danau Biru.

Lalu berapa harga tiket masuk area obyek wisata ini? Tarif masuk lumayan murah yakni hanya Rp 5 ribu per orang. Saat itu kami hanya bayar Rp 20 ribu untuk satu mobil memuat 4 orang dewasa dan 2 orang anak.

Singkatnya, wisata alam nan indah ini telah menjadi obyek foto dan latar video bagi para fotografer untuk berbagai keperluan, seperti: pre wedding, traveler, promosi/iklan produk, dan lainnya. Tidak hanya itu, sudah tidak terhitung agenda penting maupun hajatan terlaksana di sini lalu ia melegenda. Bahkan ribuan memory telah terpahat di antara indahnya Danau Biru, yang suatu ketika mewujud legenda.

Dengan demikian, kita berharap ada pengembangan infrastruktur pendukung serta jasa layanan, antara lain tempat duduk/nongkrong (semisal cafe) atau tempat berteduh di sisi danau. Bahkan jika memungkinkan ada jasa sewa payung terutama saat musim hujan.

Obyek wisata Danau Biru yang telah memiliki reputasi nasional dan bahkan akan menginternasional tersebut, tentu diharapkan tetap terpilihara.**

Penulis adalah seorang musafir pecinta foto dan wisata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here