Beranda Artikel Opini Akankah Kolom Kosong Bertahan?

Akankah Kolom Kosong Bertahan?

742
0
BERBAGI

PILKADA serentak yang dihelat di negeri ini sudah berakhir. Sisa menunggu hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Khusus di Sulsel dimana Pilgub, bupati dan walikota juga digelar sehingga memberikan pemimpin baru hasil pilihan masyarakat. Begitu pula dengan Walikota Makassar yang ikut berganti sehingga pilkada diharapkan dapat memberikan pemimpin baru di “Kota Daeng”. Meski hasil resmi dari KPU belum keluar tapi lembaga survey yang ikut ambil bagian didalamnya memberikan hasil dengan modal perhitungan cepat atau quick count yang dapat menentukan pemenangnya. Dimana Kolom Kosong menjadi pemenang di Kota Makassar. Kemenangan kolom kosong ini menjadi pembicaraan di tengah masyarakat, meski ada yang percaya dan ada pula yang tidak percaya sebelum hasil resmi dari KPU.

Hal itu dilakukan oleh beberapa lembaga survey yang boleh dibilang sangat dipercaya oleh kredibilitasnya karena selama ini memang tidak pernah meleset. Hal ini menandakan bahwa hasil quick count di Kota Makassar ini memberikan informasi awal bahwa Kolom Kosong-lah menjadi pemenang. Meski kita tahu bahwa pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu) yang didukung oleh banyak partai tapi tetap kalah dengan Kolom Kosong. Hal ini membuktikan bahwa bukan banyaknya partai pendukung sehingga bisa dikatakan sebagai pemenang, tapi karena figur yang menentukan.

Sekarang masyarakat sudah cerdas dalam pemilihan sehingga siapapun yang masuk calon tentu masyarakat harus melihat siapa yang bakal dipilih. Jadi bukan lagi partai politik menjadi acuan tapi orangnya yang menentukan sehingga masyarakat langsung memilih. Bisa dibayangkan, jangankan tidak ada orangnya  (kolom kosong) saja tapi itu bisa menang. Hal ini berarti bahwa masyarakat banyak yang memilihnya tanpa komando. Tapi karena pilihannya sendiri dan itu tidak ada larangan untuk mencoblosnya karena memang ada dua pilihan. Satu ada orangnya dan satunya tidak ada orangnya, tapi yang banyak diminati rakyat adalah yang tidak  ada orangnya.

Jadi sekarang partai bukanlah suatu kekuatan politik di tengah masyarakat karena itu sudah terbukti di Kota Makassar. Jadi ini juga bisa menjadi barometer dalam pemilihan presiden akan datang. Karena partai masih tetap menjadi rebutan dalam pilkada. Kalau memang partai menjadi salah satu syarat untuk maju dalam pertarungan (pilkada) maka secukupnya saja, sebab biar banyak partai kalau memang orangnya tidak memiliki kapabilitas itu tidak bakal dipilih oleh rakyat. Jadi partai hanya pemenuhan syarat dalam mengikuti pilkada. Kita tidak boleh bangga dengan banyaknya dukungan paratai tapi tetap tidak bisa mengambil hati masyarakat.

Olehnya itu, pilkada Kota Makassar yang dimenangkan Kolom Kosong itu masih menjadi tanda tanya besar sebab Kolom Kosong tidak memiliki saksi dan perwakilan dalam perhitungan di KPU, sehingga besar kemungkinan bisa dipermainkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Kalau memang pelaksanaan pilkada ini mau jujur berarti biar bagaiman pun kolom kosong tetap menjadi pemenangnya karana itu hasil quick count yang juga tidak pernah meleset seratus persen.

Dengan demikian, maka kolom kosong harus menjadi pemenang sehingga setahun kemudian dilaksanakan pemilihan ulang sesuai dengan aturan yang berlaku. Tapi kalau ternyata hasil rekapitulasi atau perhitungan KPU ternyata kolom kosong kalah berarti, lembaga survey itu tidak ada artinya sebab tidak bisa memberikan hasil yang dapat dipedomani oleh masyarakat. Meski kita tahu bahwa selama ini lembaga survey tetap dipercaya oleh masyarakat karena selama ini tidak pernah meleset. Tapi kalau ini meleset berarti itu harus dipertanyakan keberadaannya. Dimana kira-kira terdapat kesahalan. Apakah di lembaga survey atau di KPU?.

Pasalnya, berbagai issu yang mengemuka di tengah masyarakat bahwa kemenangan kolom kosong itu dianggap suatu pembohongan atau hoax bagi masyarakat, sehingga tidak dipervcaya. Padahal, selama ini quick count itu sangat dipercaya lantaran selalu memberikan informasi yang akurat meski ada perbedaan tapi sangat sedikit, sehingga yang menang tetap menjadi menang.

Olehnya itu, pilkada yang dihelat ini menjadi perdebatan dari berbagai pihak karena ada yang tetap meyakini bahwa dimana pun dan bagaimanapun hasil perhitungan KPU, maka kolom kosong tetap menang. Tapi di lain pihak ada juga anggapan bahwa lawan kolom kosong jadi pemenang. Hal ini menjadi perdebatan di tengah masyarakat sehingga ini sangat membingungkan warga apalagi sudah jelas dan nyata bahwa hasilnya memang kolom kosong yang menang.

Jadi tinggal bagaimana KPU sebagai penyelenggara pilkada dan juga sebagai pengambil keputusan paling akhir dan disahkan, sehingga itulah yang akan dipercaya dan menjadi keputusan yang paling baik dan dilaksanakan. Tinggal pelaksanaan atau kejujuran bagi pelaksana untuk menetapkan hasilnya. Jangan sampai terkesan ada permainan kalau dilakukan perubahan atau tidak sesuai dengan hasil quick count tersebut. Nah, akankah kolom kosong bisa bertahan? Mudah-mudahan ini bisa diambil hikmahnya sehingga masyarakat tetap mempercayai kinerja dari penyeleggara pilkada di daerah ini khususnya di Kota Makassar. Semoga!

Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Penulis Indonesia Makassar (IPIM) Sulsel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here