Beranda Artikel Opini Proyek Revitalisasi Danau Tempe: Nelayan Sejahtera atau Sengsara?

Proyek Revitalisasi Danau Tempe: Nelayan Sejahtera atau Sengsara?

968
0
BERBAGI

SORE itu, Dermaga Soreang Anatue Danau Tempe terlihat begitu ramai dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menikmati keindahan danau dan Masjid Terapung Gertala. Tiga tahun terakhir semenjak Masjid Terapung Gertala dibangun di Kelurahan Kaca, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, telah menjadi ikon yang menarik bagi masyarakat di Kabupaten Soppeng khususnya dan menjadi objek wisata religi baru di Sulawesi Selatan.

Kunjungan wisatawan menjadi berkah ekonomi tersendiri bagi nelayan di Danau Tempe karena jasa mereka dibayar oleh para wisatawan untuk menyusuri Danau Tempe dengan menggunakan perahunya masing-masing. Puncak ramainya wisatawan berdatangan adalah ketika musim libur tiba, khususnya libur lebaran Idul Fitri.

Danau Tempe, masyarakat setempat menyebutnya “Tappareng Karaja” yang berarti Danau Besar. Danau Purba yang terbentuk melalui proses geologis ini memiliki luas sekitar 13 ribu Hektar, terletak di tiga wilayah administrasi kabupaten, yaitu Wajo, Sidrap dan Soppeng. MeIihat Danau Tempe di masa lalu bisa dilihat dari beberapa sumber. Bulbeck dan Caldwell (2000) menjelaskan, pemukiman kecil pedagang Bugis pada pertengahan abad ke-13 bertumbuh di tepi barat daya Danau Tempe, yaitu Wage, Tempe, Sengkang dan Tampangeng. Tempat-tempat ini telah menjalin relasi dagang dengan para pedagang Jawa yang datang dalam jumlah yang semakin besar di pantai selatan Kerajaan Binamu dan Bangkala serta Bantaeng ketika berlayar ke kepulauan Maluku.

Manuel Pinto seorang Portugis yang disebutkan Caldwell dan Lillie (2004), dalam sebuah suratnya di tahun 1548, menyebutkan sebuah danau besar yang memiliki jenis ikan berlimpah dan di sekitar danau ada banyak kota yang sedang mengalami perkembangan. Pelras dalam bukunya Manusia Bugis (2006) mengungkapkan, Danau Tempe pada abad ke-16 menjadi poros dua jalur pelayaran strategis di Sulawesi Selatan, yaitu jalur yang menghubungkan Selat Makassar dengan Teluk Bone serta jalur Teluk Bone hingga hulu Sungai Walanae.

Pada suatu senja di Danau Tempe. FOTO:MUH. FERDHIYADI N.

Hasil rekonstruksi Tang (2005) tentang perubahan Danau Tempe, juga menjelaskan bahwa ketika Danau Tempe masih bagian dari selat yang menghubungkan Selat Makassar adalah merupakan kawasan pusat perdagangan sebelum Bandar Makassar menjadi pusat perdagangan di kawasan timur Nusantara. Barang perniagaan yang diperjualbelikan seperti emas, perak, sutra, beras, keramik, rempah-rempah dan lain-lain.
Pendangkalan Danau Tempe juga dijelaskan oleh Pelras (2006), bahwa sejak sekitar abad ke-14, penebangan hutan, pembukaan lahan pertanian di dataran rendah dan lembah, ditambah perluasan lahan perkebunan dan penanaman palawija tanpa henti di perbukitan dan pegunungan menyebabkan perbukitan gundul, lembah menjadi tandus sehingga terjadi erosi dan pendangkalan danau serta.muara sungai. Di abad ke-16 Danau Tempe menjadi tiga danau lebih kecil dan lebih dangkal.
***
Pendangkalan Danau Tempe yang telah menjadi masalah serius sejak lama akibat dari sedimentasi, masifnya pertumbuhan eceng gondok dan okupasi lahan menjadi alasan utama dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan revitalisasi untuk mengembalikan fungsi alami Danau Tempe sebagai tampungan air, termasuk penataan di kawasan daerah aliran sungai.
Dari release yang dipublikasikan Kementerian PUPR, disebutkan bahwa pekerjaan revitalisasi Danau Tempe dimulai sejak Desember 2016 yang dilakukan di tiga kabupaten. Di Kabupaten Soppeng, pekerjaan revitalisasi dikerjakan oleh kontraktor KSO PT Bumi Karsa dan SAC Nusantata dengan anggaran Rp 284, 8 Milyar dengan melakukan pengerukan seluas 289 hektar.

Sementara itu PJ Gubernur Sulawesi Selatan, Soemarsono sewaktu mengunjungi Danau Tempe di Kabupaten Wajo (09/05/2018) menyampaikan kepada awak media, bahwa revitalisasi Danau Tempe akan mendatangkan banyak manfaat dan akan mensejahterakan masyarakat terutama masyarakat nelayan yang berada di sekitar Danau Tempe. Lebih lanjut Soemarsono menjelaskan, tanah hasil kerukan tersebut akan dijadikan pulau di tengah danau. Tujuannya, agar saat air danau surut pada musim panas pulau itu bisa dijadikan lahan pertanian. Pemerintah pun menargetkan membuat 36 pulau di tengah Danau Tempe yang bisa dijadikan lahan pertanian saat air danau surut (baca:https://www.google.co.id/amp/s/www.sulselsatu.com/2018/05/10/sulsel/bosowasi/sumarsono-ingin-revitalisasi-danau-tempe-sejahterakan-rakyat.html/amp?espv=1)

Munculnya aksi protes terkait proyek revitalisasi Danau Tempe oleh masyarakat nelayan di Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Soppeng pada tanggal 02 Mei 2018 tentu menimbulkan pertanyaan, jika memang proyek revitalisasi Danau Tempe ini untuk kesejahteraan nelayan lalu mengapa nelayan yang sumber kehidupannya berasal dari Danau Tempe melakukan protes? Selanjutnya jika kita berpedoman pada participatory democracy model pengambilan keputusan dalam pembangunan, apakah masyarakat yang berada di sekitar Danau Tempe dilibatkan secara langsung mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan proyek revitalisasi Danau Tempe? Karena tentu yang pasti dan akan terjadi dari proyek revitalisasi Danau Tempe adalah dampak perubahan ekonomi, sosial budaya dan kualitas lingkungan hidup masyarakat.
***
Bersama dengan Irwan salah seorang teman yang juga merupakan pemuda masyarakat setempat, kami berkesempatan untuk menikmati Danau Tempe sore itu. Perahu yang kami tumpangi adalah perahu milik Pak Ruslan. Perahu Ketinting atau “lopi” yang telah menjadi teman setia Pak Ruslan menangkap ikan di sekitar Danau Tempe.

Mesin perahu pun dinyalakan dan perahu bersiap menyusuri Danau Tempe yang begitu tampak jelas terlihat banyaknya hamparan eceng gondok.

“Nelayan di sini sangat bergantung hidupnya pada Danau Tempe. Jadi kita tidak boleh pergi menangkap ikan kalau hari Jum’at karena kepercayaan masyarakat disini bilang kalau hari Jum’at itu keramat,” kata Pak Ruslan, memulai percakapan di atas perahu.

“Kenapa bisa pak?” jawabku, merespon langsung percakapan.
“Itu aturan sudah lama mi sejak nenek moyang ta’. Penunggunya danau kalau hari Juma’t datang lihat ikan-ikan yang juga anaknya. Kita juga nelayan bisa fokus beribadah dan kalau ada yang langgar itu aturan harus bayar empat puluh piring sokko sama empat puluh sisir pisang,” ungkap Pak Ruslan, melanjutkan penjelasannya.

“Supaya danau juga tenang dari segala aktivitas dan ikan-ikan bisa keluar dari bawah eceng gondok,” kata Irwan, menambahkan.

Saya mencoba mengambil kesimpulan dari mitos yang dibangun dan telah menjadi aturan adat oleh para nelayan di sekitar Danau Tempe sejak turun temurun, bahwa masyarakat melihat danau sebagai sumber kehidupan dan penghidupan sehingga begitu pentingnya untuk menjaga keseimbangan ekologi dan kelestarian Danau Tempe.

Mitos menjadi bagian pengetahuan dan juga menjadi kepercayaan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan masyarakat di sekitar Danau Tempe yang kemudian menjadi suatu kearifan lokal dalam sistem budaya mereka.

Perahu Pak Ruslan pun menuju ke salah satu lokasi proyek revitalisasi Danau Tempe. “Saya tidak tahu ini nanti pulau di danau kalau sudah jadi untuk apa. Sejak ada ini proyek tahun 2017, air danau jadi keruh, ikan banyak tidak mau keluar dari eceng gondok. Hampir semua nelayan berkurang ikan na dapat. Kalau dulu sebelum ada proyek, satu hari kita bisa tangkap ikan bisa sampai ratusan ekor tapi sekarang syukurmi kalau dapat ki dua puluh ekor ikan,” ungkap Pak Ruslan.

“Masyarakat di sini bagaimana pak, setuju atau tidak setuju dengan proyek ini?” tanyaku.
“Kalau disini masyarakat, kalau itu baik tentu diterima tapi memang pernah nelayan demo karena hasil tangkapan nelayan berkurang tapi tidak tahu hasilnya bagaimana. Semoga ada solusinya pemerintah lihat ini masalah,” tutur Pak Ruslan.

Sebanyak 36 pulau dari proyek revitalisasi Danau Tempe ini rencananya akan selesai pada 2019. Selain itu, menurut pemerintah pengerukan menjadi solusi untuk mengurangi pendangkalan sementara disisi lain kita mencoba untuk melihat bahwa pendangkalan di Danau Tempe yang telah ada sejak lama adalah persoalan yang kompleks. Sedimentasi yang masuk ke danau adalah akumulasi dari adanya aktivitas seperti penebangan hutan di hulu, limbah rumah tangga dan industri. Jika pemerintah hanya terfokus pada pengerukan tanpa adanya upaya pemulihan dan pelestarian dari hulu yang berkaitan langsung dengan ekosistem Danau Tempe maka pendangkalan dan pencemaran air masih akan tetap menjadi masalah klasik yang belum teratasi pada tahun-tahun berikutnya.

Satu hal yang menjadi catatan penting juga, bahwa keterlibatan aktif masyarakat harus perlu diperhatikan pemerintah jika proyek revitalisasi ini memang bertujuan untuk melestarikan ekosistem Danau Tempe dengan menggali lebih dalam lagi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat secara turun temurun terkait dengan cara pandang (world view), pengelolaan, dan pemanfaatan Danau Tempe. Masyarakat yang telah ada berabad-abad lamanya di sekitar Danau Tempe khususnya nelayan bisa jadi lebih tahu dan paham apa yang menjadi kebutuhannya beserta solusi yang mereka tawarkan.

Hingga saat ini proyek masih terus berjalan, nelayan semakin kesulitan menangkap ikan. Apakah proyek revitalisasi ini akan menjadi solusi bagi kesejahteraan nelayan atau sebaliknya menjadi kesengsaraan bagi nelayan?.

Tentu, kita patut untuk kritis melihat hal ini tetapi bukan berarti kita menolak pembangunan, hanya saja memang persoalannya kebijakan pembangunan kita lebih condong menempatkan masyarakat sebagai objek yang pasrah dan seolah tidak tahu apa-apa.**

Penulis aktif di Komunitas Ruang Abstrak Literasi dan Lingkar Diskusi Sejarah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here