Beranda Artikel Opini Pesta Demokrasi di Mata Pelaut Kajuara

Pesta Demokrasi di Mata Pelaut Kajuara

317
0
BERBAGI

SEHARI sebelum Shalat Id hujan turun di Bumi Arung Palakka. Sembari menggunakan payung ibu-ibu berlomba ke masjid terdekat “mappalebba” sajadah, pasar disesaki muda-mudi mencari baju baru, anak-anak asyik main petasan. Konsentrasi dan energi lebih banyak dicurahkan untuk menangkap ayam peliharaan dan menyediakan kayu bakar untuk memasak. Pada bulan Ramadan, bumbu rahasia, masakan “nenek moyang” akan disajikan kepada tamu yang akan datang untuk silaturahmi.

Selang beberapa hari setelah Idul Fitri, di beberapa tempat di Indonesia akan mengadakan Pesta Demokrasi. Masing-masing akan memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah termasuk diantaranya Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Walikota dan Wakil Walikota Makassar serta Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bone.

Dalam kontestasi pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar serta Bupati dan Wakil Bupati Bone diwakili masing-masing satu pasangan calon (paslon), jadi kedua konstestan bersaing dengan kotak kosong. Untuk wilayah pemilihan Kecamatan Kajuara, akan melakukan pemilihan Gubernur dan Bupati, 27 Juni mendatang.

FOTO:RIFAL NAJERING

Gambar di atas menujukkan bahwa dua hari setelah lebaran Idul Fitri, para awak kapal sudah bersedia menerima muatan yang masuk di pelabuhan. Mereka tidak terlalu mengenal istilah cuti, mungkin saja ada libur tapi pada saat hari lebaran dan nikahan, selebihnya kerja. Satu sisi, para pegawai menikmati cuti bersama yang cukup panjang, di sisi lain, pelaut memilih untuk tetap bekerja untuk kebutuhan si buah hati.

Di tengah Pesta Demokrasi yang semakin dekat, para pelaut Kajuara tetap melaksanakan aktivitas bongkar-muat. Menurut Askin, salah satu sawi KLM Erwin Jaya, kami sudah muat sebelum lebaran, hanya menunggu acara lebaran usai dan cuaca mendukung lalu berangkat. Secara pribadi Askin, belum tahu kapan akan diadakan Pilkada Serentak, lalu rekam jejak calon yang akan dipilih. “saya tunggu ji perintah Juragan ini, klu ia bilang berangkat, iya kita berangkat”, ungkapnya.

Dalam beberapa hari belakangan ini, izin layar untuk wilayah Teluk Bone masih dalam kondisi waspada sehingga belum ada izin berlayar, termasuk diantaranya pelaut Kajuara yang beroperasi di Pelabuhan Rakyat Tuju-tuju.
Apabila kondisi cuaca tetap tidak memungkinkan ini menjadi sinyalemen yang positif bagi masyarakat bahari Kajuara agar dapat berpartisipasi dalam memilih Guburnur dan Bupati masa jabatan lima tahun ke depan. Akan tetapi agak sulit menyesuikan waktu berangkat dengan jadwal pemilihan, Masdir, Juragan KLM Meilani yang telah berangkat tiga hari setelah lebaran ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTB) mengatakan beras yang telah kami muat sudah ada yang bersedia mengambil dengan harga yang sesuai, kami harus cepat-cepat berangkat untuk memastikan harga beras yang dibawa tidak mengalami penurunan. Dalam beberapa kasus yang pernah dialami oleh Masdir, terlambat datang di pelabuhan tujuan, sudah banyak perahu memuat beras dengan harga sama (memungkinkan akan menurunkan harga), biasanya harga beras yang telah disepakati akan mengalami penurunan, karena telah ada yang mendahului dengan harga beras yang lebih rendah. “jadi harus ki berangkat cepat-cepat” ungkap Masdir.

Nampaknya pesta demokrasi yang akan diadakan secara serentak, 27 Juni 2018 mendatang akan banyak kehilangan suara, terutama pemilih yang didominasi oleh para pelaut Kajuara. Mengamati kondisi real di pelabuhan, jumlah perahu semakin berkurang. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sudah banyak yang telah berangkat ke pelabuhan tujuan.

Adanya keterbatasan pengetahuan mengenai pasangan calon dalam pemilihan Gubernur dan Bupati merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan menjadi faktor yang mempengaruhi jumlah pemilih pada sektor wilayah pesisir, terutama yang bekerja sebagai pelaut. Peluang pemasaran yang semakin diperebutkan oleh sebagai besar pelaut membuat mereka berlomba untuk segera berangkat ke pelabuhan tujuan agar mendapatkan harga yang sesuai, serta kepercayaan terhadap langganan beras. Apabila terlambat sedikit, perahu masuk di pelabuhan tujuan, patut diduga akan mempengaruhi harga beras.

Untuk itu, agar penyelenggara pemilu ke depan kembali memikirkan jadwal yang tepat untuk semua golongan. Dalam hal ini, semua warga negara memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Pelaut juga merupakan warga negara yang rindu pemimpin yang amanah dan bermasyarakat. Apalagi sekarang visi pembangunan Indonesia salah satunya “membangun Indonesia dari pinggiran” yang berarti membangun infrastruktur dan masyarakat bahari. Kehilangan suara mereka, sama saja kehilangan tulang rusuk dalam membangun rumah tangga yang berorientasi pada pembangunan.**

Penulis adalah staf pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here