Beranda Pariwisata Silaturahim di Pantai Jodoh & Bagang Rambo di Angkue

Silaturahim di Pantai Jodoh & Bagang Rambo di Angkue

458
0
BERBAGI
Bagang Rambo tampak berbaris di Sungai Angkue dan sepanjang bibir Pantai di pesisir Teluk Bone. FOTO:AMIRULLAH

DESA Angkue berada di antara dua sungai yang besar yakni antara muara Sungai Ancu-Angkue di sebelah selatan, dan Sungai Tuju-tuju di sebelah utara dan di sebelah timurnya pesisir Teluk Bone.

Desa Angkue ini secara geografis sesungguhnya terpisah dengan daratan Kecamatan Kajuara dan jika disorot dari udara, maka nampak terlihat Desa Angkue ini terlihat sebagai pulau kecil nan indah.

Jika anda menyempatkan diri Ke Kabupaten Bone terutama di Kecamatan Kajuara maka rasanya akan nikmat, apabila sudah menyaksikan hempasan ombak pantai pesisir teluk bone dan menikmati udara spoi-spoi di bibir pantai, yang kata kebayakan masyarakat setempat bahwa itumi yang dikenal “Pantai Jodoh”.

Selain keindahan Pantai Jodoh yang ada di Desa Angkue ini, pengunjung pula akan dimanjakan dengan pesona kebaharian yang dimiliki oleh Masyarakat Angkue.

Sedikit diuraikan bahwa pada saat berkunjung ke Desa Angkue, saya hampir lupa pulang, padahal matahari sudah hilang di telan malam.

Bagang Rambo dengan latar fanorama sunset. FOTO:AMIRULLAH

Hal yang menakjubkan terlihat olehku di sepanjang Sungai Angkue dikala sore itu, terlihat dari jembatan penyeberangan Angkue bagang rambo yang nampak kejauhan seakan telah berbaris menyambut kedatangan tamu yang tak diundang ke Angkue ini, seakan ingin bersilaturahmi dengan kehadiran penulis dan pantai Jodoh serta Bulan Romadhan (Idul Fitri 1439 H). Hingga saat itu saya penasaran untuk singgah sejenak sambil “Massiara/silaturahmi” karna hari itu masih suasana lebaran Idul Fitrih 1439 H.

Suasana “Massiara” kala itu tidak lah seperti datang hanya menikmati “Kampalo, Burasa dan ayam palekko” namun penulis menyempatkan mengorek-gorek atau bahasa gaulnya “diskusi kecil” mengenai keberadaan bagang rambo di desa Angkue, bersama salah seorang pemilik bagang rambo (H. Dg. Mattaro)

Kata H.Dg. Mattaro bahwa Bagang Rambo yang ada di Angkue ini sudah turun-temurun dan menekuninya sudah sejak tahun 1970-an, dimana sejak adanya pengenalan mesin tempel pada perahu motor yakni: mesinNyanmar, Chiandong, Mitsubishi.

Selain itu keberadaan bagang rambo ini telah dimotori oleh keluarganya yang turun temurun dari orang tua dan keluarganya.

Desa Angkue hampir 70 % masyarakatnya menggantungkan kehidupannya di laut sebagai nelayan (Pattasi), baik sebagai pemilik bagang rambo, nelayan sawi, pammeng, pattongkol, dan adapula nelayan tradisional pemilik bagang tancap yang berada di sungai Angkue dan Tuju-tuju.

Selain potensi Pantai Laose atau sekarang nama kerennya “Pantai Jodoh” Desa Angkue semakin bergerak maju, hal ini didukung pula oleh Petta Desa Andi Efluddin menjadikan Desa Angkue tujuan wisata.

Selaku Akademisi dan orang Kajuara serta pemerhati nelayan turut pula berharap agar potensi pantai dan geliat Keberadaan nelayan bagang rambo di angkue tetap di perhatikan sebagai potensi dasar menggeliatkan ekonomi masyarakat di desa tersebut, seperti pentingnya kehadiran dermaga nelayan permanen dan jika perlu serta penting adanya untuk dihadirkan TPI Angkue agar masyarakat nelayan di Angkue dan sekitarnya tidak lagi ke TPI Sinjai.

Kata Dg. H. Mattaro bahwa “TPI Sinjai penuh ikan segar karna kehadiran nelayan dari Kajuara Bone yang sudah lama bergelut dilaut sebagai nelayan bagang rambo dan pattongkol”

Kehadiran Nelayan bagang rambo mendorong ekonomi kreatif masyarakat di Angkue Hal ini nampak dari kepemilikan rumah yang sudah permanen seperti rumah batu berjejeran disepanjang jalan lingkar menyusuri sungai dan bahkan nampak pula pemilik bagang rambo sudah memiliki kendaraan motor dan mobil.

Tidak hanya itu status sosial pun kelihatan nampak pada masyarakat nelayan pada umumnya yang memiliki perahu pattongkol dan bagang rambo yang umumnya sudah berstatus “Haji”

Selain itu, menurut H. Dg. Mattaro di Angkue ini selain dirinya, juga H. Dg. Mallongi dan H. Dg. Marakka, H. Dg. Mannessa, H. Dg. Pasampu yang paling banyak memiliki bagang rambo.

Lanjut menurut Ambo bahwa di Desa Angkue ini puluhan Bagang Rambo dan pada umumnya para pemilik bagang rambo itu berasal dari Angkue dan pemiliknya telah menunaikan Haji serta punya investasi rumah di Kabupaten Sinjai dan di kota Makassar dan anak merekapun sudah di sekolahkan sampai ke Kerguruan Tinggi (Wawancara, 16 Juni 2018).

Selain menyaksikan Panorama indah di Desa Angkue, saya juga menyempatkan berfose di dermaga kecil nelayan di Desa Angkue tersebut yang sungguh indah dihiasi taburan kilauan cahaya matahari yang hampir redup dan lambat laun di telan malam dan seakan memberika isyarat tanda bahwa esok masih ada waktu untuk kita bersua lagi.

Semoga kehadiran “Pantai Jodoh” membawa berkah, menjadi destinasi wisata pantai, kemajuan devisa desa dan menggiatkan serta memajukan taraf ekonomi kreatif nelayan di Desa Angkue dengan turut pula menghadirkan dermaga ataupun TPI Angkue dimasa-masa akan datang.

Laporan: Amirullah (Dosen Fakultas Ilmu Universitas Negeri Makassar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here