Beranda Artikel Opini Membendung Faham Terorisme Melalui Sinerjitas Paham Nasionalisme & Keagamaan

Membendung Faham Terorisme Melalui Sinerjitas Paham Nasionalisme & Keagamaan

434
0
BERBAGI

Di Abad Ke-21 ini, tidaklah tabu dan terasa baru untuk diperbincangkan masalah paham nasionalisme dan keagamaan dalam negara Indonesia, karna rasanya akan tetap aktual dan hidup sepanjang zaman untuk memahami perkembangan sejarahnya, baik dalam konteksnya, masalah-masalah implementasinya ataupun mengembangkan lebih lanjut untuk membingkai kebinekaan kita sepanjang masa.

Nasionalisme ialah kata dan paham yang pertama kali dikemukakan oleh Augustin Barruel pada tahun 1789, dimana nasionalisme merupakan paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan dan nasionalis dapat terbentuk oleh ikatan rasa kebangsaan kelompok individu, persamaan ras, bahasa, warisan budaya, serta kesatuan atau kedekatan wilayah.

Menurut Faisal Bakti (2006) bahwa Kesadaran nasionalisme pada bangsa-bangsa baru tumbuh sejak akhir abad ke-18 setelah sebelumnya kesetiaan individu hanya ditujukan kepada organisasi politik, raja-raja, serta kesatuan ideologi atau agama. Dimasa modern paham nasionalisme dilembagakan dalam bentuk negara. Unsur-unsur utama pembentukan suatu negara misalnya wilayah, penduduk, pemerintahan yang sah, dan kedaulatan. Dengan kata lain, bahwa suatu ikatan kelompok masyarakat persoalan kesamaan rasa adalah perioritas dari segala perioritas dari segala masalah. Artinya untuk memperioritaskan masalah utama dalam keorganisasian, maka hal yang utama dan pertama yang harus dibangun pondasinya adalah pemahaman nasionalisme dan keagamaan, baru kemudian di ikuti oleh ikatan emosional dan seterusnya. Kekuatan nasionalisme adalah kekuatan mobilisasi masa yang tidak boleh surut bagi generasi pelanjut, sebab nasionalisme dan keagamaan menjadi faktor terpenting dalam menggerakkan sebuah kelembangaan yakni negara kesatuan yang berdaulat.

Pentingnya Sinergitas Paham Nasionalisme dan Keagamaan bagi Generasi Muda

Mencari sinergitas antara paham Nasionalisme dan paham keagamaan tidaklah mudah karna keduanya memiliki kategori yang berbeda namun saling memberi manfaat. Paham nasionalisme/kebangsaan termasuk dalam wilayah politik yang justru yang tumbuh dalam rangkaian musyawarah yang tidak putus-putusnya dalam proses panjang pencarian bentuk tatanan kehidupan bersama dalam bingkai negara Indonesia sejak masa kebangkitan, kemerdekaan sampai reformasi hingga zaman Now saat ini.

Sedangkan Paham keagamaan menurut Moerdiono (2012) bahwa pada dasarnya termasuk dalam kategori metafisika atau filsafat, yang senantiasa berusaha mencari, menghayati serta menegakkan kebenaran-kebanaran supranatural, dimana tidak memerlukan pengujian dengan pengalaman empirik.

Jika mencermati keduanya, akan nampak persamaannya dan akan saling menguatkan dalam menumbuhkan paham Nasionalisme dan keagamaan itu, dimana keduanya mampu membendung paham-paham radikalisme seperti Terorisme yang saat ini cukup meresahkan bangsa kita.  Adanya insiden bom yang terjadi di Surabaya pada tanggal 13-14 mei 2018, merupakan peristiwa yang tidak bertanggungjawab dan berprikemanusiaan, serta hal ini menjadi bukti kelembagaan kita masih harus bekerja keras memahamkan dan mengsinerjikan jiwa nasionalisme dan keagamaan kepada masyarakat kita, agar tidak lagi muncul paham-paham radikal yang senantiasa menjadi momok bagi bangsa dan Negara kita kedepannya.

Membendung paham-paham radikalisme dan atau terorisme adalah usaha kita semua, bukan hanya tugas pemerintah, wakil rakyat, kepolisian atau lembaga keagamaan namun ini menjadi tugas bersama untuk mengantisipasi dan menguatkan kebangsaan dan keagamaan, melalui pendidikan formal maupun non formal yakni dimulai dari pendidikan keluarga, atau dalam bentuk hiburan maupun olahraga bahkan perlu belajar dari nilai-nilai sejarah kepahlawan para pejuang bangsa kita untuk ditiru dan diamalkan serta menguatkan nasionalisme dan paham keagamaan kita, bahkan sangatlah penting adanya penguatan Undang-Undang Anti Terorisme, menghukum dan mengutuk  keras aksi terorisme yang tidak berprikemanusiaan dan bertanggungjawab tersebut.

Banyak cara menumbuhkan/mensinergikan nasionalisme dan keagamaan, baik di bidang olahraga, seni, budaya, dan keagamaan serta pendidikan. Sebagai generasi muda, maka tugas kita adalah belajar, berkarya, menunjukkan prestasi dalam berbagai bidang tersebut, seperti dalam bidang seni hiburan seperti prestasi yang telah ditorehkan oleh tiga generasi muda Indonesia yakni: Selfi (asal Sulawesi Selatan), Rara (asal Sumatera Selatan) dan Arif (asal Sumatera Utara) di bidang seni suara pada konteks Liga Dangdut Indonesia di Indosiar tanggal 14 mei 2018, dimana mampu menghibur masyarakat Indonesia dengan suara merdunya dan kita berharap nanti di Asean Games  2018, yang akan dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus – 2 September 2018 di Sumatera Selatan dan Jakarta, akan lahir banyak prestasi-prestasi dari generasi muda bangsa Indonesia.

Penulis adalah dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here