Beranda Kampus PPs UNM-LSF RI Gelar Kuliah Umum Tentang Film Sebagai Media Pembelajaran

PPs UNM-LSF RI Gelar Kuliah Umum Tentang Film Sebagai Media Pembelajaran

466
0
BERBAGI
Perahu sedang sandar di dermaga Pulau Larea-rea, Ahad (17/6/2018). FOTO: RIFAL NAJERING/TEBARNEWS.COM

MAKASSAR, TEBARNEWS.COM — Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar (UNM), gelar Kuliah Umum bertema “Film Sebagai Media Pembelajaran dan Hiburan”, Sabtu (9/6/2018). Kegiatan yang berlangsung di Gedung AD ini, terselenggara atas kerjasama Lembaga Sersor Film (LSF) Republik Indonesia (RI).

Kuliah umum ini dibuka langsung oleh Direktur Program Pascasarjana UNM, Prof. Dr. H. Hamsu Abdul Gani, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pentingnya kegiatan kuliah umum bagi mahasiswa dalam menambah wawasan pengetahuan.

“Model kuliah seperti ini sangat dibutuhkan apalagi mendatangkan pakar di bidangnya. Mahasiswa Pascasarjana tidak cukup hanya menimba ilmu melalui kuliah rutin 3 semester, tapi perlu dilakukan melalui berbagai kegiatan lain seperti kuliah umum ini”, ungkapnya.

Prof Hamsu juga mengungkap bahwa pihaknya sering melakukan kuliah umum dan biasanya adalah gabungan seluruh program studi di institusi yang di pimpinnya. Film lanjut Prof Hamsu merupakan media pembelajaran yang sangat efektif, terutama yang bernuansa pendidikan.

“Contoh film bermuatan pendidikan yang menginspirasi banyak pihak antara lain adalah Film Laskar Pelangi. Selain itu, baru-baru ini yang banyak diminati masyarakat adalah film Melawan Takdir”, paparnya.

Menurut mantan Pembantu Rektor III UNM ini, kegiatan kuliah tentang pentingnya film sebagai media pembelajaran tersebut perlu dilanjutkan dalam bentuk workshop.

Penandatanganan Bukti Hadir Pemateri Kuliah Umum, Dr. Ahmad Yani Basuki, M.Si (ketiga dari kiri), disaksikan Prof. Dr. Darman Manda, M.Hum (kedua dari kiri), dan Prof. Dr. Anshari, M.Hum, di Pascasarjana UNM, Sabtu (9/6/2018). FOTO:TEBARNEWS.COM

Pembicara tunggal Ketua LSF RI, Mayjend (Purn) Dr. H. Ahmad Yani Basuki, M.Si memulai materinya dengan bahasan tentang tujuan perfilman, film dan iklan film, nilai strategis film, dan fungsi perfilman. Selanjutnya, diulas hal-hal sensitif yang perlu diperhatikan dalam film, dampak globalisasi, perubahan perilaku masyarakat, tips menonton film, serta pentingnya sensor mandiri.

Purnawirawan yang akrab disapa Pak Yani ini juga menjelaskan banyak hal tentang tantangan perfilman di Indonesia. Salah satu wujud keperihatinan yang diungkapnya adalah bahaya jika film telah dikuasai budaya asing.

“Salah negara yang aktif memproduksi film sejauh ini adalah Korea dan sangat diminati di Indonesia. Saya khawatir jangan-jangan budaya lokal kita nantinya juga digarap oleh Korea”, ungkapnya.

Meski begitu, ia mengapresiasi produksi film Indonesia yang kental dengan muatan budaya lokal seperti Film Silariang: Menggapai Keabadian Cinta dengan isi cerita berlatar budaya masyarakat Sulawesi Selatan.

“Mengapa film Silariang kontennya tidak direvisi, karena telah ada sensor mandiri”, ungkapnya.

Film Silariang meraih kemenangan di ajang anugerah LSF 2017 lanjut Ahmad Yani, karena kekuatan dinamika lokalnya. “Muatan budaya lokal inilah sebenarnya Indonesia”, tegasnya.

Menutup uraian materinya, ia menekankan pentingnya sensor mandiri dilakukan dalam bentuk memilah dan memilih jenis tontonan yang bermanfaat.

“Tidak semua tontonan adalah tuntunan. Mari memilih jenis tontonan yang mendidik dan bermanfaat”, kunci Ahmad Yani.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Direktur III Program Pascasarjana UNM, Prof. Dr. Anshari, M.Hum, Kaprodi IPS Prof. Dr. Darman Manda, M.Hum, mahasiswa PPs UNM, dosen, guru, tokoh masyarakat, aktivis LSM, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, dan pihak lainnya.

Penyerahan cenderamata dan foto bersama, mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan kuliah umum ini. (am/tn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here