Beranda Citizen Reporter SD Inpres Lantebung Butuh Perhatian

SD Inpres Lantebung Butuh Perhatian

277
0
BERBAGI
FOTO: RUSDIN TOMPO.

TEBARNEWS.COM – Letak sekolah yang berada di pinggiran kerap membuat perhatian pada sekolah bersangkutan juga berkurang. Hal itu dialami juga oleh SD Inpres Lantebung, Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Sekolah yang berada sekitar 1,5 km di sisi Jalan Tol Ir. Sutami ini bukan hanya butuh perhatian yang terkait dengan fasilitas dan infrastruktur tapi juga pendidikan karakter agar anak-anak memiliki motivasi untuk maju dan landasan moral yang baik dalam kehidupannya kelak.

Karena itu, Kepsek SD Inpres Lantebung, Dra. Sri Hartiah, M.Pd mengapresiasi kehadiran Komunitas #ObatManjur (orang hebat main jujur) yang tergabung dalam RELASI (Relawan Antikorupsi) di sekolahnya, Sabtu (3/3/2018). Komunitas ini sudah menyasar belasan sekolah untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi dengan metode dongeng dan bermain.

“Adik-adik sudah pernah dengar dongeng kancil mencuri ketimun?”, tanya Manggazali memulai ceritanya. Anak-anak pun kompak menjawab, “Sudah, Kaaaak.”
“Apakah mencuri itu baik?”, tanya Manggazali lagi. Serempak anak-anak menjawab riuh, “Tidak, Kaaak.”
Manggazali pun melanjutkan ceritanya, “Alkisah kancilnya sudah tobat….”
Kontan saja anak-anak tertawa. Dialog seperti ini selalu mewarnai aktivitas anak muda pegiat antikorupsi itu.

Setelah sesi dongeng, anak-anak dibagi per kelompok untuk bermain boardgame TERAJANA, yakni akronim dari Temukan Keberanian, Tanggung jawab dan Kesederhanaan. Ada juga 9 nilai antikoropsi lengkap dengan gerakannya yang diperkenalkan oleh Kak Sahlan, yang hari itu memimpin teman-temanya dari komunitas #ObatManjur. Agar anak-anak mudah mengingat 9 nilai tersebut maka disingkat menjadi “Berjumpa di Kertas”. Kesembilan nilai itu adalah berani, jujur, mandiri, peduli, adil, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan sederhana.

“Kenapa Berjumpa di Kertas?”, tanya Sahlan kepada anak-anak yang rerata sudah duduk di kelas 4-6 itu. “Karena kehidupan kita banyak yang berhubungan dengan kertas,” jelas Kak Sahlan.

Kita membaca dan menulis bersentuhan dengan buku-buku. Untuk itu anak-anak dinasihati agar rajin belajar. Perilaku korupsi juga berkaitan dengan kertas, dalam hal ini uang dan dokumen.

Kak Sahlan lalu mengajak beberapa anak untuk maju menirukan gaya Berjumpa di Kertas itu. Nisa, Wulan dan Naya mengacungkan jari dan memimpin gerakan sebagaimana dicontohkan. Setelah itu mereka diberi hadiah berupa gantungan kunci.

Kepsek SD Inpres Lantebung, Dra. Sri Hartiah, M.Pd mengaku senang melihat murid-muridnya dikunjungi. Sekolah yang memiliki 6 kelas dengan 228 siswa itu memang butuh perhatian. Anak-anak di sekolah ini kebanyakan berasal dari keluarga nelayan dan buruh gudang. Jika mereka tamat SD cenderung putus sekolah. Selain alasan motivasi dan ekonomi, juga karena akses ke sekolah relatif jauh.

“Ada SMPN 31 di sekitar sini, tapi aksesnya jauh. Anak-anak mesti mutar-mutar ke sana,” kata Pak Saraba, warga Lantebung.

Sekolah ini juga butuh buku-buku bacaan anak-anak, terutama tema-tema lokal untuk menambah referensi dan koleksi perpustakaannya. Selain itu, sekolah juga butuh pembenahan fasilitas, seperti pagar dan paving blok lapangan untuk dipakai olahraga, bermain dan upacara. Lapangan yang ada sekarang masih berbatu dengan rumput tumbuh di sana-sini. Jadi tidak nyaman dan aman untuk digunakan serta tidak ramah anak.

Apalagi, kata Bu Sri, sebagai sekolah Adiwiyata, tantangannya menjadikan sekolah ini hijau, asri dan indah.

“Bagaimana bisa tumbuh kodong, kalau tanaman kami selalu dimakan hewan peliharaan warga,” keluh Sri saat berbincang di ruang kerjanya.

Fungsi pagar penting bagi SD Inpres Lantebung agar proses belajar mengajar berjalan lebih kondusif. Fungsi pagar juga untuk menjaga lahan sekolah dari kemungkinan terjadinya sengketa batas lahan dengan warga. Tembok yang ada sekarang, yang terlihat seperti pagar, sejatinya adalah sisa bangunan yang roboh.

“Jadi kami biarkan saja berdiri sebagai pembatas, supaya kami juga mudah mengawasi anak-anak,” ungkap Bu Sri yang sudah berdinas sekira 2 tahun di Lantebung. (crp)

Laporan: Rusdin Tompo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here