Beranda Pustaka Meretas Makna Di Balik Ritual Komunitas Adat Karampuang di Sinjai

Meretas Makna Di Balik Ritual Komunitas Adat Karampuang di Sinjai

692
0
BERBAGI

GLOBALISASI berikut efek sosial budaya yang ditimbulkan, menggiring pemikiran manusia (yang menamakan dirinya modern) pada suatu pemaknaan atas berbagai realitas yang disandarkan pada cara berpikir barat. Serentak dengan itu, kearifan lokal yang idealnya menjadi pedoman dalam perikehidupan masyarakat di Sulawesi Selatan justru cenderung terabaikan.

Dalam kondisi seperti inilah pentingnya kehadiran buku yang memuat tentang upacara adat yang dilakukan oleh Manusia Karampuang. Dalam pelaksanaannya, terbagi atas empat kategori besar yang masing-masing memiliki penanggung jawab. Dalam pesan leluhurnya ada ungkapan yang mengatakan “Mappugau Hanua Arungnge, Mabbissa Lompui GellaE, Makkaharui SanroE, Mattula Balai GuruE”. Dengan demikian, maka segala ritual yang berkaitan dengan hal-hal sakral dan berhubungan dengan dewa-dewa atau orang-orang suci, keramat menjadi bagian tanggung jawab To Matoa atau Arung, segala ritual yang berhubungan dengan masalah tanah, pertanian serta kehidupan rakyat banyak maka yang menjadi penanggung jawabnya adalah Gella.

  • Pengarang: Darman Manda
  • Penerbit: Rayhan Intermedia
  • Ukuran: 13 x 19 cm
  • Terbit: 2017
  • ISBN: 978-602-6216-09-0
  • Harga: Rp 35.000

Upacara yang berhubungan dengan kesejahteraan, kesehatan warga menjadi tanggungjawab Sanro. Sementara itu, upacara keagamaan menjadi tanggung jawab Guru. Buku ini mengurai berbagai aspek tentang profil mansia Karampuang, Jagad Karampuang, Rangkaian Ritual Mappugau Hanua, dan Ritual Maddui.

Buku ini menarik bukan hanya karena mengurai tentang makna dan rangkaian pelaksanaan ritual Manusia Karampuang sebagai salah satu pendukung tradisi lama (megalitik) di Sulawesi Selatan. Sebaliknya, bumi Karampuang merupakan representasi entitas dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan dahulu, yaitu Gowa dan Bone. Hal ini tampak pada Simbol pakaian resmi dua Pemangku adat yaitu Arung (Tomatoa) memakai songko guru (songkok khas raja Bone) dan Gella memakai passapi (ikat kepala khas kerajaan Gowa). Kesatupaduan integratif ini, membantah kecenderungan orang memisahkan secara separatif antara Bugis dan Makassar. Bahkan hal ini diperkuat oleh anggapan bahwa istilah Karampuang sesungguhnya berakar dari kata Karaeng dan Puang.**

Sumber: Online Book Store

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here