Beranda Artikel Opini Ketika Moral Generasi Muda Rapuh

Ketika Moral Generasi Muda Rapuh [Belajar Dari Tragedi Wafatnya Guru Budi]

648
0
BERBAGI

ILMU itu memang mahal. Wajar saja orang mau menuntut ilmu harus mengeluarkan sejumlah uang baru bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Apalagi di era modern ini ilmu semakin memiliki nilai yang terkesan susah diraih oleh masyarakat tidak mampu. Namun sebaliknya masyarakat yang kaya tentunya sangat mudah mendapatkan ilmu itu melalui dunia pendidikan.

Meski diketahui bahwa menuntut ilmu di bangku sekolah tetap membutuhkan berbagai pengorbanan karena itu sudah menjadi keharusan dalam aturan dunia pendidikan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkan ilmu di bangku sekolah karena sudah ada aturannya yang harus dilewati. Begitupula dengan siswa yang belajar atau menuntut ilmu di bangku sekolah. Sekarang ini banyak siswa yang masih duduk di bangku sekolah tapi terkesan kurang menghargai lagi gurunya.

Hal ini disebabkan karena moral siswa-siswi sekarang sudah tidak terkontrol lagi. Bahkan kasus di dunia pendidikan silih berganti. Mulai dari kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh gurunya sendiri, pemukulan terhadap murid yang langsung dilaporkan ke pihak berwajib. Namun, yang paling ironis lagi adalah murid memukul gurunya sendiri hingga meninggal dunia. Ini sebuah tantangan ke depan bahwa siswa sekarang sudah tidak menghargai atau menghormati lagi gurunya. Padahal, guru di sekolah itu merupakan orang tua ke dua setelah orang tua kandungnya.

Memang sangat disayangkan pemukulan guru Ahmad Budi Cahyono, guru honorer di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, meninggal dunia pasca-mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh siswanya sendiri. Di mana siswanya berasal dari Dusun Brekas, Torjun Timur, Desa/Kecamatan Torjun Sampang.

Melihat kelakuan sang murid ini terhadap gurunya yang boleh dibilang kurang ajar itu, maka wajarlah kalau murid seperti ini dipenjara. Bahkan kalau perlu dikeluarkan dari sekolah karena moralnya sudah sangat bobrok. Tidak perlu lagi ada rasa kasihan karena dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Jadi tindakan dan kelakuan murid seperti ini harus dikeluarkan dari sekolah. Kalau ini dilakukan oleh pihak sekolah itu juga ada nilai positifnya karena murid lainnya pasti berfikir dua kali kalau mau melakukan tindakan yang sama.

Memang diakui bahwa di era modern ini perilaku siswa di sekolah itu rata-rata sudah tidak menghargai lagi gurunya sebagai orang tua kedua. Moral siswa sekarang sudah berkurang bahkan boleh dibilang tidak memiliki lagi moral. Hal ini juga tidak terlepas dengan banyaknya kebijakan di dunia pendidikan. Di mana kita tahu bahwa pergantian pucuk pimpinan di lingkungan pendidikan juga berubah kebijakannya. Jadi lain menteri pendidikan, maka kebijakan atau aturan itu pasti berubah. Wajarlah kalau kebijakan ini berubah-ubah di sekolah.

Anak-anak juga dibuat bingung lantaran banyaknya kebijakan yang kurang mendukung pada pendidikan moral bagi anak sekolah. Salah satu contoh adalah dihilangkannya mata pelajaran “Pendidikan Moral Pancasila” (PMP). Padahal mata pelajaran ini sangat baik untuk dipelajari oleh siswa karena kapan moral siswanya kurang bagus, maka nilai PMP nya pasti merah. Akan tetapi sekarang ini mata pelajaran tersebut sudah dihilangkan dan diganti dengan mata pelajaran yang kurang mendukung pendidikan moral. Padahal moral bagi anak sekolah itu sangat bagus apalagi di era modern ini yang hampir tidak menghargai lagi orang yang lebih tua.

Bukan hanya itu, tapi juga perilaku siswa yang sudah keterlaluan itu sering melakukan tindakan yang kurang mencerminkan sebagai murid di sekolah. Ada saja tindakan yang selalu melanggar tapi apabila ditegur atau dipukul sama gurunya, maka orang tua murid langsung melaporkan gurunya kepada polisi. Wajar saja kalau sekarang ini guru-guru di sekolah kurang mendidik lagi. Guru hanya mengajar sesuai dengan mata pelajaran tanpa ada pembinaan lagi karena mereka takut dipolisikan. Hal ini tidak terlepas dengan kebijakan pemerintah dan juga kemauan orang tua.

Olehnya itu, peran orang tua tetap ada andilnya dalam memperbaiki moral anaknya. Sekarang orang selalu mengambil-ambilkan anaknya dan tidak mau anaknya luka atau mendapat perlakuan pembinaan dari sang guru, sehingga tidak heran jika banyak kasus guru dipenjara dan dilaporkan oleh orang tua murid. Memang diakui bahwa orang tua selalu menghawatirkan anaknya bila mendapat teguran dari sang guru apalagi kalau dipukul. Padahal, perlu dipahami bahwa guru melakukan pemukulan itu pasti ada yang salah atau nakal sehingga diberikan pembinaan. Namun sebagian besar orang tua salah menafsirkan pembinaan guru. Padahal guru tidak ada yang mau melihat muridnya tidak berhasil, semuanya pasti ingin melihat muridnya berhasil.

Kalau kita menengok ke belakang di mana guru di era tahun 70-an jika murid dipukul di sekolah lalu melaporkan kepada orang tuanya di rumah, maka si orang tua ini malah kembali memarahi anaknya bahkan kalau perlu memukul anaknya itu. Sekarang tidak ada lagi seperti itu. Wajar saja jika anak sekolah sekarang bertambah pintar dan semakin menjadi-jadi kelakuannya. Bukan hanya gurunya dilawan tapi juga orang tuanya di rumah kadang dilawan. Jadi bagaimana moral anak sekarang di era “Jaman Now”. Benarkah siswa sekarang sudah tidak memiliki moral lagi?.

Sekarang ini siswa di sekolah sudah melenceng dari prilaku siswa sekolah karena melihat cara berpakaiannya juga sudah bergeser. Dulu masih di dalam celana bajunya. Sekarang ini sudah di luar sehingga kelihatannya tidak rapi lagi dan bahkan terkesan anak sekolah Jaman Now itu tidak memperdulikan lagi kerapian atau penampilan sebagai siswa. Padahal itu sangat penting bagi siswa. Sebab kapan bisa berperilaku anak baik kalau bukan di sekolah. Kalau sudah menjadi mahasiswa atau sudah kerja itu berarti tidak ada lagi tuntutan untuk merapikan pakaian. Hal ini tidak terlepas dengan longgarnya aturan bagi siswa yang ada sekarang.

Olehnya itu, diharapkan kedepan pimpinan agar membuat aturan di sekolah tidak selalu berubah sehingga siswa tidak bingung. Juga diharapkan tidak ada aturan yang longgar terhadap siswa karena itu masih anak-anak sehingga wajar kalau ada aturan ketat diberlakukan di sekolah. Jika ada anak yang tidak mau mengikuti aturan itu, bisa diberikan sangksi atau peringatan dan kalau perlu dikeluarkan agar yang lain dapat melihat contoh bahwa kalau melanggar pasti ada hukumannya. Jadi para pendidik tidak boleh takut dalam menjalankan tugasnya. Sebab kalau anak sekolah tidak diberikan pembinaan khususnya pendidikan moral, maka mau dikemanakan siswa nantinya kalau tidak memiliki moral yang baik. Negara ini membutuhkan generasi muda yang cerdas dan memiliki moral yang baik. Buat apa cerdas kalau moralnya bobrok. Mudah-mudahan dunia pendidikan tidak terjadi hal-hal yang merugikan semua pihak. Semoga !

Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Penulis Indonesia Makassar (IPIM) Sulsel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here