Beranda Pustaka Orang Melayu dalam Sejarah Makassar Abad XVI-XVII

Orang Melayu dalam Sejarah Makassar Abad XVI-XVII

849
0
BERBAGI
Buku Orang Melayu di Makassar Abad XVII-XVII, karya Usman Nomay. FOTO: DOK. TEBAR NEWS.

STUDI mengenai kemelayuan belakangan ini, tampaknya semakin menarik perhatian dan gencar dilakukan oleh banyak kalangan. Hal ini dimaksudkan untuk menelusuri persebaran dan hubungan kemelayuan di kawasan regional Asia Tenggara dalam berbagai konteks. Bahkan upaya menemukan persamaan budaya dan meretas hubungan historis dua negara serumpun ini, paling tidak akan mengubur mimpi buruk hubungan keduanya yang nyaris renggang.

Bangunan kemelayuan di tingkat makro (bilateral dan multilateral) tersebut, tentu saja akan semakin kukuh jika ditopang oleh pondasi sejarah dan pilar budaya lokal di tingkat mikro. Karena itu, dalam posisi inilah persebaran jejak kehadiran orang Melayu di Indonesia Timur termasuk Makassar menjadi penting sebagai orientasi kajian.

Dinamika kemelayuan dalam rentang waktu yang sangat panjang, telah menyuguhkan kompleksitas persoalan dan ragam wacana yang menyertai sejarahnya. Hal ini menunjukkan bahwa masih tersedia (terbuka) ruang yang cukup luas untuk kajian spesifik (atau tematik) tentang Melayu di antara beberapa karya yang sudah ada. Pentingnya kajian mengenai kemelayuan ini, mendorong Rayhan Intermedia untuk ikut ambil bagian dalam pengadaan pustaka Melayu sekaligus wujud implementatif dari slogannya yang bertajuk “Matarantai Peradaban”.

Cover Buku Orang Melayu di Kota Makassar Abad XVI-XVII, karya Usman Nomay. FOTO: RAYHANBOOK.COM
  • Pengarang: Usman Nomay
  • Penerbit: Rayhan Intermedia
  • Ukuran: 14 x 21 cm
  • Tebal: 110 hlm
  • Terbit: 2016
  • Cetakan: II
  • ISBN: 978-979-17587-8-9
  • Harga: Rp 35.000

Buku yang ditulis oleh saudara Usman Nomay ini, merupakan salah satu dari seri pustaka Melayu yang akan diterbitkan oleh Rayhan Intermedia. Karya tulis yang sebelumnya adalah tesis magister (S2) ini, tidak hanya memuat hal ikhwal mengenai proses kedatangan dan peran orang Melayu di Makassar, tetapi mengurai beberapa tafsir tentang Melayu.

Putra kelahiran Ternate dan alumni Sejarah Pascasarjana UNM ini, memperkenalkan bahwa orang Melayu sesungguhnya bukanlah suatu komunitas etnik atau sukubangsa yang mungkin telah ditafsirkan “secara keliru” oleh banyak orang. Sebaliknya, ia adalah semacam bangsa atau kumpulan etnik serumpun yang beragama dan berbahasa sama Dengan demikian, warisan budaya yang mereka miliki terdapat banyak persamaan yang menarik ditelusuri.

Buku yang diterbitkan Rayhan Intermedia ini menjelaskan bahwa sejarah keberadaan orang Melayu di Makassar, tidak terlepas dari jatuhnya Malaka ke tangan Portugis 1511. Selain itu, kebijakan politik pintu terbuka yang diterapkan oleh Kerajaan Gowa dan Tallo, pun memiliki andil yang sangat penting bagi keberadaan orang Melayu di Makassar. Dengan demikian kedatangan Anakoda Bonang kepada Karaeng Tunipallangga Ulaweng (1546-1565), mendapat sambutan yang hangat dan bahkan mengabulkan permintaan orang Melayu untuk memiliki tempat tinggal (pemukiman) tersendiri.

Faktor pendukung lain yakni terbentuknya hubungan antar orang Melayu dengan Orang Makassar pada abad XVII lewat dua jalur, yakni proses pedagangan dan penyebaran Islam. Bahkan setelah Islam diterima secara resmi menjadi agama kerajaan, maka maka orang Melayu tidak hanya berperan dalam kegiatan dakwah Islamiyah. Akan tetapi, orang Melayu berperan dalam penulisan dan penyalinan buku-buku agama Islam dari bahasa Melayu ke bahasa Makassar (lontara’). Selain sebagai juru tulis istana Orang Melayu juga tampil menjadi syahbandar dan muballigh.**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here