Beranda Pustaka Mozaik Sejarah Sulawesi Selatan

Mozaik Sejarah [Masyarakat] Sulawesi Selatan

642
0
BERBAGI

UPAYA menemukenali identitas lokal masing-masing etnik dan spasial di Indonesia, tampaknya semakin gencar dilakukan terutama pasca bergulirnya otonomi daerah. Bahkan tidak jarang keserupaan (hubungan) sejarah dan kemiripan warisan budaya menjadi determinan kuat atas terbentuknya wilayah administrasi baru (pemekaran wilayah). Tak terkecuali beberapa daerah di Sulawesi Selatan, sejauh ini masyarakatnya pun tampak gencar melakukan gerakan kebudayaan berdimensi historis. Bersama kerinduan akan masa lalu atas nama identitas inilah, kehadiran buku ini menjadi penting.

Di sisi lain harus diakui bahwa mempelajari sejarah lokal tentu tidak cukup hanya dengan pemahaman secara konseptual dan metodologis, tetapi memerlukan telaah khusus atas sejumlah peristiwa. Untuk maksud tersebut, diperlukan pengayaan bangunan ilmiah tersebut dengan cara menyajikan beberapa peristiwa lokal di Sulawesi Selatan. Banyak peristiwa menarik dalam tumpukan lapis waktu yang memerlukan sentuhan kemauan untuk menjamahnya serta menghadirkannya dalam rupa buku bacaan dan bahan ajar.

Lalu seperti apa hubungan penguasa dan rakyat (kontrak sosial)?, mengapa terjadi perebutan tahta?, bagaimana kaum kolonial menjajah?, kapan terjadi hubungan kekuasaan dengan dunia luar?, siapa saja tokoh pengukir sejarah?, dan apa saja warisan budaya masa lampau di Sulawesi Selatan?, itulah sederet pertanyaan yang dijawab oleh sejumlah penulis yang tersaji dalam setiap bagian buku ini.

  • Judul Buku: Sulawesi Selatan Tempo Doeloe
  • Penulis: Najamuddin, dkk
  • Penerbit: Rayhan Intermedia
  • Ukuran: 14 x 21 cm
  • Cetakan: II, 2016
  • Tebal: 326 hlm
  • ISBN: 978-602-95545-6-4

Bagian awal buku ini memuat konsep Tomanurung yang menempatkan elit bangsawan pada posisi strategis, baik dalam struktur sosial kemasyarakatan, maupun dalam kedudukan politis di Sulawesi Selatan. Kontrak sosial dan kontrak pemerintahan inilah yang kemudian mengatur hak dan kewajiban serta tanggungjawab masing-masing kedua belah pihak antara elit bangsawan dan rakyat kebanyakan sebagai manusia Bugis-Makassar. Kedua kontrak atau ikatan perjanjian tersebut mencerminkan adanya pola hubungan yang seimbang antara elit bangsawan atau penguasa dengan rakyat yang berada di bawah kekuasaan.

Bagian berikut buku ini mengurai tentang suatu asumsi bahwa pada hakekatnya penarikan nilai dari suatu episode sejarah tidak lain dari proses subyektifikasi, yaitu pemberian interpretasi terhadap suatu episode sejarah dalam kaitannya dengan kebutuhan masa kini. Demikian pula halnya dalam penarikan nilai sejarah dari episode sejarah terror Westerling di Sulawesi Selatan. Peristiwa ini adalah salah satu bahagian dari episode sejarah perjuangan bangsa Indonesia menegakkan kemerdekaan yang dikenal dengan istilah Perang Kemerdekaan. Periode Perang Kemerdekaan dalam Sejarah Indonesia memiliki ciri-ciri khas, yaitu sarat dengan emosi, semangat, keberanian, kerelaan berkorban, cinta tanah air, bangsa dan Negara sendiri. Semangat dan jiwa kepahlawanan tersebut tetap diperlukan sepanjang zaman dan seluas ruang yang ada dalam dunia ini.

Peristiwa lokal lainnya yang tidak kalah menarik, yakni kondisi Sulawesi Selatan sejak abad XVI yang ditandai oleh konflik berupa peperangan antara kerajaan untuk memperebutkan hegemoni (kekuasaan tunggal). Karena itu, Tellu Poccoe (Bone, Wajo, Soppeng) lahir seabgai suatu persekutuan berupa ikatan persaudaraan yang bertujuan politik, yakni melawan serta mengimbangi kekuatan Kerajaan Gowa. Persekutuan ini dibentuk berdasarkan suatu perjanjian yang diadakan di Timurung Kampung Bunne Desa Allamungpatue, Kecamatan Ajang Ale, (Kabupaten Bone sekarang) pada 1582.

Khusus kurun kolonial di Sulawesi Selatan, dibahas dalam dua judul masing-masing mengurai tentang Selayar masa pendudukan Belanda-Jepang dan nasib perempuan di antara kebijakan militer Jepang di Pare-pare. Bahkan dilanjutkan dengan uraian tentang Suppa masa revolusi fisik. Menurut penulisnya, perjuangan rakyat Suppa dalam arti luas tidak dapat dilepaskan dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam menentang Imperialisme Belanda. Selain itu, suatu fakta historis menunjukkan bahwa perjuangan itu, merupakan konsekuensi logis daripada proklamasi 17 Agustus 1945.

Dunia politik yang dipaparkan dalam buku ini, tidak hanya sebatas hubungan antar penguasa dan rakyat serta perebutan tahta, akan tetapi hubungan Sulawesi Selatan dengan dunia luar pun dibahas. Sebut saja hubungan Makassar dengan Bima, serta hubungan diplomatik Bone dengan Buton menjadi warna tersendiri bagi kajian sejarah lokal di daerah ini.

Satu kajian menarik lagi yakni ulasan tentang spasial   yang terletak antara Sungai Je’neberang dan Sungai Tallo (sekarang, bagian dari wilayah Kabupaten Gowa dan Kota Makassar). Terdapat 9 (sembilan) buah kampung yang didiami oleh penduduk yang dikenal sebagai Tu Gowa atau Tu Mangkasara, yaitu Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang (Parangtambung?), Data, Agang Je’ne (Pacci’nongang?), Bisei, Sero’, dan Kalling (Kassi?). Kampung-kampung tersebut merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri sendiri dan diperintah/dipimpin oleh seorang raja yang disebut juga sebagai Kasuwiyang/Gallarrang Dengan panggilan/gelar kehormatan sebagai Daengta/Kare (Karaeng). Dalam perkembangan selanjutnya, kesembilan kerajaan kecil tersebut bersepakat menggabungkan diri sehingga menjadi “semacam kerajaan federasi.”

Melengkapi uraian tentang kekuasaan dan dunia politik di Sulawesi Selatan, buku ini juga mengurai tentang warisan budaya masing-masing kepercayaan Patuntung di komunitas Amma Toa Kajang, tradisi perkawinan di Komunitas Tolotang Amparita, dan pinisi sebagai simbol identitas Bugis-Makassar. Kemudian dua tulisan terakhir masing-masing mengurai tentang Akar Kepahlawanan Andi Sultan Daeng Raja serta Lataddampare Puang Rimaggalatung sebagai sosok pemikir dan pemimpin Lokal Wajo.

Buku ini ibarat sebuah jendela masa yang dapat digunakan oleh siapa saja untuk melihat dimensi kelampuan Sulawesi Selatan dalam upaya menemukan identitas lokal dan jati diri. **

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here