Beranda Historia Muslim di Kota Judi

Muslim di Kota Judi

Oleh Ahmadin Umar

460
0
BERBAGI
Negeri Macau yang Populer dengan sebutan Kota Judi. FOTO/INT.

KOTA JUDI, itulah sebutan akrab bagi Macau. Sebuah “negeri” kecil yang statusnya sama dengan Hong Kong yakni sebagai Special Administrative Region (SAR) dari Negara Cina. Hanya saja keduanya memiliki sejarah yang berbeda yakni Hong Kong merupakan bekas jajahan Inggris, sedangkan Macau adalah bekas jajahan Portugis.

Mengapa Kota Judi? Mungkin karena kasino bertebaran sejagad Macau. Jangan lupa bahwa legalisasi perjudian di bekas jajahan Portugis ini telah menjadikannya sangat maju dari segi perekonomian serta berbagai hal. Macau ini tidak kalah dengan kemajuan Hong Kong, sehingga rasanya tidak lengkap sebuah paket perjalanan wisata seseorang tanpa mengunjunginya.

Siang itu, Kamis (02/11/2017) Aku dan teman-teman berkesempatan mengunjungi tempat-tempat wisata utama di Macau. Namun sepanjang perjalanan menyusuri kota semenanjung Macau, mata ini gagal menangkap dan menemukan masjid. Lalu bagaimana orang-orang beribadah di Kota Judi ini, terutama shalat Jumat?. Sebuah pertanyaan penting dijawab terutama bagi traveler muslim yang menyempatkan diri berkunjung di Macau. Bahkan informasi mengenai Islam di negeri ini, pun penting diketahui mengingat para pekerja dari negeri mayoritas muslim (Misalnya, Indonesia sekitar 6.000 orang) banyak jumlahnya di Macau.

Untuk menjawab rasa penasaran yang sedari tadi bersemayam dalam benakku, akhirnya aku mencoba menanyakan perihal masjid dan umat Muslim di negeri ini. Guide yang mendampingi kami pun memberi keterangan bahwa satu-satunya masjid yang berada di Macau adalah Mosquito de Macau yang berlokasi di Ramal Dos Moros. Masjid atau lebih tepat dinamai mushallah berukuran sekira 6,5 x 12 meter ini, letaknya berada di ujung jauh dari pusat keramaian dan hiruk pikuk Kota Macau.

Dari beberapa informasi aku peroleh bahwa masjid kecil yang dikomandoi oleh seorang imam bernama Ustadz Yunus asal Timor Leste ini, merupakan pusat asosiasi muslim. Di tempat inilah para muslim pekerja asing berkumpul dan beraktivitas terutama hari Ahad. Mengapa Ahad? Hari Ahad bagi para pekerja adalah “hari merdeka”, di mana mereka libur dan bebas bepergian ke mana saja. Dengan demikian, pada hari lain di area masjid ini sunyi dari berbagai aktivitas keagamaan.

Mosquito de Macau, satu-satunya Masjid di Macau yang berlokasi di Ramal Dos Moros. FOTO/DOK. TEBARNEWS.COM

Di negeri dengan luas wilayah hanya 29,5 km2 ini, ada dua organisasi yang menghimpun dan membina umat Islam, yakni Majelis Ta’lim Macau (MATIM) bernama Al-Hasanah yang berlokasi di Rue de Silva dan yang lainnya bernama Halimah. Aktivitas keagamaan umat Islam seperti ini, menunjukkan bahwa Macau tidak hanya menerima warisan Portugis tetapi juga warisan muslim masa lampau. Lalu kapan ajaran Muhammmad Saw ini hadir di Macau?.

Sejarah mencatat bahwa ajaran Islam masuk di Macau bermula sejak masa kekuasaan Dinasti Ming yang dibawa oleh para pedagang Arab dan Persia. Selain itu, kehadiran muslim di negeri ini juga tidak terpisahkan dari peristiwa gejolak perang sipil di Cina Daratan 1949 yang menyebakan eksodus Cina Muslim Hui melarikan diri ke Taiwan dan Macau untuk menyalamatkan diri. Hingga sekarang ini tercatat muslim di Macau berjumlah lebih dari 400 orang dari total jumlah penduduk yakni 1,2 juta jiwa. (Dari berbagai sumber)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here