Beranda Traveling Menyusuri Jejak Portugis di Negeri Macau

Menyusuri Jejak Portugis di Negeri Macau

Laporan: Ahmadin Umar

584
0
BERBAGI

MACAU, TEBARNEWS.com – Sebagai bekas jajahan Portugis sejak abad XVI, Macau menyimpan aneka warisan negeri asal Eropa ini. Mengapa? Macau tercatat dalam sejarah sebagai daerah jajahan Eropa tertua di Tiongkok. Ia menjadi pernah menjadi pos perdagangan Portugis, pasca kedatangan Jorge Alvares di selatan Cina pada 1570. Bahkan dari sejarah diketahui bahwa pihak Dinasti Ming yang berkuasa masa itu, menyewakan macau sebagai pusat niaga atau centra perdagangan yang tetap berada di bawah kekuasaan Cina. Status ini berlangsung hingga 1999, saat penyerahan kembali kedaulatan Macau ke tangan Republik Rakyat Tiongkok.

Kamis siang (02/11/2017) aku dan teman-teman berkesempatan mengunjungi salah satu obyek wisata yakni reruntuhan Katedral St. Paul. Rumah ibadah umat Kristiani ini tercatat sebagai World Heritage Site, UNESCO. Gereja beraksitektur ala Portugis yang dibangun abad XVII ini, dalam catatan sejarah disebutkan pernah menjadi pusat pendidikan agama Kristen. Dari Rahim akademi inilah terlahir ilmuan-ilmuan Kristiani di Mahkamah Agung, Beijing.

Lalu mengapa mewujud reruntuhan? Menurut sejarahnya, pada 1835 terjadi kebakaran hebat di mana si jago merah melalap dan meruntuhkan bangunan ini. Bagian tersisa dari peristiwa ini adalah dinding depan Katedral. Dengan demikian, apa yang kita saksikan saat berkunjung di lokasi ini sekarang adalah dinding depan yang tersisa dari kebaran masa lampau tersebut. Menariknya, warisan ini “abadi” dan terawat hingga menjadi destinasi wisata yang enggan orang lewatkan saat berkunjung di Macau.

Di bawah terik sinar matahari siang itu, aku berdiri di depan reruntuhan gereja ini dan menatap bangunan sekitar yang berarsitektur Eropa. Sungguh merupakan sebuah pemandangan indah yang tentu bukan hanya menarik untuk photografi atau berselfie ria, tetapi nilai sejarahnya juga tidak kalah menggoda. Sisi kelampauan dari bangunan-bangunan tua yang unik ini membuat penasaran ingin menziarahinya.

Bangunan Berciri Arsitektur Eropa di sekitar reruntuhan Katedral St. Paul di Macau (foto: tebarnews).

Dari reruntuhan gereja ini selanjutnya aku menyusuri Senado Squere, sebuah plaza yang merupakan landmark Kota Macau. Arsitektur bangunannya yang berwarna klasik gaya Eropa pun menyuguhkan nuansa khas yang memikat. Eropa banget, seperti itulah kira-kira ungkapan yang pas untuk melukiskan tempat ini atau melabeli situasinya. Kemudian ada satu obyek wisata yang tidak kalah menarik yakni Gedung Leal Senado, balai kota pertama di Macau. Gedung yang dibangun 1784 ini, pernah dijadikan sebagai centra kekuatan militer Portugis.

Jejak kekuasaan dan Warisan Portugis lainnya yang aku kunjungi adalah Venetian Hotel & Resort, sebuah mall terbesar di Macau dengan desain interior yang luar biasa. Di tempat ini aku sempat melihat replika kanal Venice dan Gondola. Konon kabarnya Godolier (pengayuh kapal) itu didatangkan langsung dari Negara Eropa.

Di replika kanal yang berada di tengah pusat perbelanjaan ini, tampak para pengunjung naik perahu sambil berfoto. Mereka kelihatan sangat menikmati perahu kecil itu. Di tepi reflika kanal ini juga aku lihat seseorang menyanyikan lagu-lagu nostalgia diiringi petikan gitar klasik. Tidak hanya para bule yang meramaikan tempat ini. Beberapa pengunjung asal Indonesia juga terlihat dan bahkan sempat berbincang denganku.

“Aku dari Banyuwangi, mas”, jawab perempuan berhijab itu saat aku tanya. Menurutnya, ia bersama beberapa anggota keluarga sengaja liburan dan berkunjung ke Macau. Sama seperti aku dan rombongan, mereka juga beberapa hari sebelumnya berada di Hong Kong.

Replika Kanal Venice dan Gondola pada sebuah pusat perbelanjaan di Macau (foto: tebarnews/ahmadin umar).

Apakah warisan Portugis hanya itu? Tentu saja tidak. Sebuah tempat menarik yang banyak dikunjungi para wisatawan di Macau adalah Barrier Gate atau Portas do Cerco. Tempat ini merupakan saksi sejarah penting pembangunan Macau 1870. Pada gate ini terdapat air mancur serta sejumlah tanaman hijau di sekitarnya. Jangan lupa bahwa di tempat ini juga kita menyaksikan karya puisi sang penyair ternama asal Portugis, Luis de Camoes yang tertulis pada dinding berwarna hijau.

Belum puas menyaksikan pemandangan berhiaskan air mancur? Nah… ini masih ada yakni Camoes Garden. Pada taman kota tertua di Macau ini juga terdapat air mancur dengan patung perunggu “Embrace”. Patung ini secara simbolik merupakan perlambang jalinan persahabatan selama berabad-abad lamanya antara Portugis dengan Cina. Taman ini sekaligus merupakan ruang publik yang katanya banyak digunakan sebagai tempat untuk bersantai, nongkrong, serta dijadikan sebagai sarana berolah raga pada pagi hari.

Apakah anda pecinta sejarah dan kebudayaan? Nah sini tempat menarik dikunjungi yakni Museu de Macau. Pada museum ini kita dapat menyaksikan berbagai koleksi yang merupakan bukti perjumpaan budaya Cina dan barat. Bahkan di museum ini kita dapat memperoleh aneka informasi tentang seni dan tradisi di Macau.

Selain itu, kita juga bisa menikmati saksi sejarah jurnalistik di Cina yakni Gereja St. Dominic. Menurut sejarahnya, di gereja berarsitektur perpaduan Portugis dan Spanyol inilah terbit pertama kali Surat Kabar Portugis di Cina. Dalam perkembangannya hingga sekarang, tempat ini merupakan museum seni suci dengan gallery yang memiliki 300 buah koleksi artefak.

Masih banyak tempat lain yang ingin aku nikmati di Macau. Tapi hari sudah mulai sore dan itu berarti kami harus bergegas menuju hotel untuk beristirahat. Demikian catatan dan cerita sehari di Macau. (*)

(Laporan Ahmadin Umar/tebarnews, langsung dari Macau).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here