Beranda Kutipan Medsos Sebelum Kampanye Slogan “Ayo ke Bone” Perlu Benahi Infrastruktur Terlebih Dahulu

Sebelum Kampanye Slogan “Ayo ke Bone” Perlu Benahi Infrastruktur Terlebih Dahulu

495
0
BERBAGI
Salah satu contoh angkutan penumpang dengan muatan melebihi kapasitas dan dapat mengancam keselamatan (Foto: Subarman Salim).

Bone, tebarNews.com – Pemerintah Kabupaten Bone sejauh ini tampak gencar mempromosikan daerahnya terutama di sektor pariwisata. Melalui slogan “Ayo ke Bone” pemkab ini mengkampanyekan daerahnya kepada para wisatawan baik lokal maupun asing tentang keunggulan destiasi wisata yang dimiliki. Meski begitu, kesiapan infrastruktur tidak kalah penting untuk dibenahi terlebih dahulu. Hal ini setidaknya telah menjadi perhatian salah seorang Netizen asal Kabupaten Bone, Subarman Salim yang menuliskan hal ini melalui akun facebook miliknya seperti berikut:

Rasanya, tanpa kesiapan infrastruktur, slogan “Ayo Ke Bone” justru menjadi bumerang. Kejadian tragis beruntun kemarin cukup sebagai buktinya. Bus menabrak puluhan orang di pasar malam Kota Watampone, seorang meninggal, yang lain luka. Peristiwa tragis itu menambah berita duka sebelumnya yang terjadi di kawasan wisata Salo Merunge Kabupaten Bone, di hari yang sama (13/11).

Kecelakaan itu sebenarnya bisa diprediksi, hanya soal waktu dan nasib saja. Hampir setiap hari kita melihat truk gandeng dan mobil bus, melewati jalanan ramai nonprotokol. Mengapa mobil raksasa itu tidak melewati jalurnya sendiri? 

Mobil bus angkutan antar provinsi selama ini menjejalkan penumpang dan barang-barang jauh melebihi batas kapasitas. Mereka (penumpang dan supir) seperti tak peduli dengan standar keselamatan. Mereka hanya berpikir bagaimana menekan biaya perjalanan. 

Kesalahan teknis lainnya yang terlihat jelas adalah tidak berfungsinya terminal. Bus angkutan, yang kelebihan penumpang itu melenggang melewati pos jaga tanpa ada pemeriksaan sesuai SOP.

Kehadiran pasar malam di pantai kering ini juga tak bisa dielakkan sebagai variabel pokok kesemrawutan tata kota. Kondisinya: kurang dari separuh ruas jalan yang diperuntukkan untuk dilalui kendaraan. Selebihnya, orang-orang berdesakan merengsek memenuhi nyaris seluruh permukaan jalanan.

Sama halnya dengan objek wisata Salo Merunge. Pemerintah bersama warga sedang antusiasnya mengkampanyekan “Ayo Ke Bone”. Namun, ajakan itu tidak disertai dengan kesiapan infrastruktur. Atau paling tidak, memberikan peta lokasi objek bersama seorang guide. 

Padahal, sarana wisata sejenis Salo Merunge tergolong ekstrem, sehingga dibutuhkan seperangkat alat pengamanan pendukung, petunjuk detail lokasi, dan tentu saja escortist.

Jadi, sebelum mengkampanyekan “Ayo Ke Bone”, benahi dulu infrastruktur, perbaiki penataan kota, fungsikan kembali terminal, tertibkan parkir liar, relokasi gudang-gudang ke luar kota.

Mari berpikir untuk (ke) Bone. 

Sumber: Facebook Subarman Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here