Beranda Pariwisata Komunitas Amma Toa di Kajang

Komunitas Amma Toa di Kajang

642
0
BERBAGI

BULUKUMBA, TEBARNEWS.com – Ketika menelusuri jalan menuju perkampungan di kawasan adat Amma Toa akan tampak rumah-rumah penduduk yang berdiri seragam. Selain bentuk rumah dan bahan bangunannya yang sama, keseragaman juga tampak pada rumah mereka yang semuanya menghadap ke arah utara. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakatnya berada di bawah komando yang sama serta sangat patuh berdasarkan kententuan adat. Lalu bagaimana keunikan lain yang tampak dari masyarakat Ammatoa?.

Pertama, pakaian serba hitam yang digunakan menurut kepercayaan masyarakatnya, adalah sebuah simbol kesederhanaan dan pertanda bahwa mereka sangat sukar untuk dipengaruhi orang luar seperti halnya warna hitam pakaiannya. Jadi simbol hitam pada pakaian mereka memiliki pesan kultural. Bahkan ketentuan berdasarkan adat tersebut, juga diberlakukan pada orang lain yang hendak berkunjung dan memasuki kawasan adat yang telah ditentukan batas-batasnya.

Kedua, simbol kesederhaannya juga tampak dari perabot rumah yang digunakan masih bercorak tradisional seperti tidak menggunakan lemari, ranjang, dan perabot mewah lainnya. Kesederhanaan ini merupakan refleksi dari pesan Ammatoa bahwa “Jika seandainya bumi Ammatoa ditakdirkan untuk kaya maka sayalah yang terakhir akan merasakan kaya, sebaliknya bila ternyata ditakdirkan bumi ini miskin maka sayalah yang pertama merasakan miskin”. Karena itu, bentuk rumah berdasarkan “pasang” (pesan) adalah : tiang rumah tertanam ke dalam tanah sekitar 1 meter, tidak boleh lebih dari tiga petak, pintu berada di tengah dinding bagian depan, tiang rumah hanya empat baris dari samping, jendela tidak boleh terlalu lebar, dinding terbuat dari bambu dan dipasang melintang, lantai terbuat dari bambu, tidak boleh memakai dinding tengah kecuali dinding pada petak paling belakang yang biasanya digunakan sebagai kamar para gadisnya atau tempat pengantin baru, dan masih banyak lagi kententuan lainnya.

Ketiga, pemilihan pemimpin masyarakat (kepala adat) yang bernama Ammatoa tidak dilakukan sebagaimana masyarakat kebanyakan, melainkan melalui sebuah upacara suci. Modus pelaksanaannya yakni menghadirkan beberapa calon pengganti Ammatoa pada sebuah upacara yang dilengkapi oleh berbagai persyaratan secara adat. Untuk menentukan siapa yang berhak memimpin masyarakat Ammatoa pada periode berikutnya, diundilah para calon dengan pembakaran kemenyan dan kemana arah asap kemenyan tersebut bertiup berarti arah yang ditujulah sebagai orang yang berhak dinobatkan sebagai pemimpin.

Keempat, cara lain dalam penentuan pemimpin berdasarkan keterangan masyarakatnya, yakni upacara adat dengan menggunakan seekor ayam sebagai faktor penentu. Ayam yang dipilih berdasarkan ketentuan adat, setelah dibacakan mantera kemudian dilepas dengan pengharapan akan terbang dan hinggap pada pundak salah satu dari beberapa calon yang ditetapkan. Orang yang terpilih berdasarkan upacara inilah yang berhak memimpin masyarakat Ammatoa.

Selain upacara-upacara tersebut, masyarakat Ammatoa juga mengenal upacara seperti a’dangang (pesta kematian), Akkattere (semacam mengeluarkan zakat) yang dihadiri oleh 26 anggota adat, A’dampo’ (semacam acara syukuran) yang diselenggarakan di luar kawasan pemukiman Ammatoa, dan Attunu Passau (membakar linggis) yakni upacara adat yang dilaksanakan pada saat terjadi pelanggaran terhadap “Pasang Ri Kajang”.

Dalam memimpin masyarakatnya, seorang Ammatoa dibantu oleh beberapa personil yang dikenal dengan nama “Ada’ Lima” yang terkenal dengan sebutan “Galla” atau Gallarang. Perangkat adat tersebut adalah Galla Pantama, Galla Lompo, Galla Anjuru, Galla Puto dan Galla Kajang. Selain itu, dikenal pula perangkat adat yang disebut “Ada’ Tallua” yakni Karaeng Kajang, Sulehatang dan Moncong Buloa. Kawasan adat tempat masyarakat Ammatoa berdomisili dikenal dengan sebutan “Ilalang Embaya”, sedangkan masyarakat umum di luar kawasan adat disebut “Pantarang Embaya”. Lalu apa sebenarnya isi dari Pasang Ri Kajang, sehingga menurut orang sangat menarik untuk diketahui ?.

Dilihat dari katanya, Pasang berarti pesan atau nasehat yang dijadikan sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Ammatoa. Isi Pasang tersebut antara lain : Konsep persatuan yang dikenal dengan “A’lemo sibatu A’bulo sipappa”, konsep kepercayaan pada sang pencipta (Anggu’rangi mange ri turie’ a’ra’na), konsep tolong menolong (Tallang sipahu manyu’ siparampe), saling menasehati (Lingu sipainga), konsep kerjasama yang baik atau loyalitas (Mate siroko Bonting Sipabasa) dan seruan untuk patuh pada adat (Sallu ri ajoa ammalu riadalang).

Singkatnya, obyek wisata adat Ammatoa Ri Kajang ini mempunyai keunikan baik dari segi budaya maupun kehidupan sosial yang terkesan sangat tradisional. Penasaran ingin melihatnya, silahkan anda berkunjung ke tempat ini dan siapkan pakaian hitam sebagai tanda penghormatan kepada ketentuan adatnya.

(Sumber: www.makassarpost.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here